RADAR JOGJA – Jajaran Unit Reskrim Polsek Godean berhasil mengamankan gerombolan anak bawah umur meresahkan. Aksi kali ini semakin nekat karena bermodalkan airgun berpeluru gotri. Korbannya adalah pengguna jalan raya yang sempat berpapasan dengan pelaku.

Dari hasil penangkapan munculah nama inisial F.MA.  Remaja laki-laki berusia 17 tahun ini adalah pemilik airgun bermerk Piero Beretta. Selain airgun tersebut, polisi juga berhasil menyita 14 butir amunisi jenis Gotri. Adapula satu unit Honda Scoopy plat nomor AB 6461 EP.

“Aksi ini Jumat malam (25/12) sekitar pukul 21.00. Pelaku melaju di jalan Godean dari arah barat menuju timur. Dia tidak terima karena korban menyalip rombongan pelaku sambil berjalan zig-zag. Lalu terjadilah penembakan dengan airgun di jalan Godean KM 10,” jelas Kasatreskrim Polres Sleman AKP Deni Irwansyah, ditemui di Mapolres Sleman, Senin (28/12).

Deni menambahkan rombongan pelaku terdiri dari empat perempuan. Sebelumnya rombongan ini sempat kumpul di warung kopi daerah Girimulyo, Kulonprogo. Pelaku juga sempat mengonsumsi minuman beralkohol (mihol) jenis Gedang klutuk.

Saat melakoni aksinya, tersangka F.M.A dalam kondisi pengaruh mihol. Pelaku semakin menjadi karena tidak diterima disalip. Pelaku memburu korban sambil terus mengacungkan airgun.

“Menembak 3 kaki dan 1 peluru Gotri kena helm milk korban. Korban lalu berteriak ada klitih dan akhirnya bisa diringkus oleh warga dan dibawa ke Polsek Godean,” tambahnya.

Deni memastikan proses hukum tetap berlanjut. Hanya saja metodenya mengacu pada Undang-undang Perlindungan Anak. Selain dikenakan wajib lapor, pelaku anak juga telah dititipkan ke balai karantina milik Dinas Sosial DIJ.

Berdasarkan data, F.M.A masih berstatus pelajar aktif. Tepatnya salah satu sekolah negeri di kawasan Kapanewon Tempel. Sementara untuk alamat tinggal berstatus warga Kapanewon Seyegan.

“Proses hukum tetap lanjut, dikenakan Pasal 1 ayat (1) UU Darurat Nomor 12 Tahun 1951. Ancaman hukumnya 12 tahun penjara,” tegasnya.

Kanit Reskrim Polsek Godean Iptu Bowo Susilo menuturkan kepemilikan airgun cukup lama. F.M.A mengaku telah membeli sejak tiga tahun lalu. Tepatnya sejak masih duduk di bangku kelas 3 SMP. Senjata api angin ini dibeli seharga Rp 1,2 juta.

Hasil penyidikan terungkap, airgun baru pertama kali digunakan. Khususnya untuk melakukan aksi teror di jalan raya. Selama ini senjata tersebut hanya digunakan sebagai permainan.

“Tersangka ngakunya baru pertama kali memakai untuk menembak orang. Sebelumnya hanya untuk main-main. Menembak botol dan lainnya,” katanya.(dwi/sky)

Hukum Kriminal