RADAR JOGJA – Operasi Lilin Progo 2020 tak hanya terfokus pada pelanggaran lalu lintas dan kriminal semata. Kondisi pandemi Covid-19 harus jadi pertimbangan tersendiri. Khususnya dalam penegakan prokes.

Operasi Lilin Progo 2020 melibatkan ribuan personel gabungan. Detailnya 1.701 personel Polri, 380 personel TNI, 342 personel Dinas Perhubungan, 699 personel Satpol PP, dan ratusan personel instansi pemerintah. Adapula keterlibatan organisasi masyarakat.

Kapolda DIJ Irjen Pol Asep Suhendar menuturkan, pihaknya mendirikan 21 pos pengamanan. Seluruhnya tersebar hingga seluruh wilayah di Jogjakarta. Terkait pengamanan rumah ibadah, Polda DIY juga bersiaga mengamankan 45 rumah ibadah atau gereja. ”Sesuai surat dari pemerintah, tegas melarang ada kegiatan Natal dan tahun baru yang menimbulkan kerumunan. Kalau ada yang nekat, pasti dibubarkan,” tegasnya seusai apel pasukan di Mapolda DIY Senin (21/12).

Terkait izin ibadah, pihaknya tetap berkoordinasi dengan penanggung jawab peribadahan. Komunikasi terakhir menunjukan tidak adanya peribadahan tatap muka. Aktivitas peribadahan jemaat masih berlangsung cara online.

Walau begitu pihaknya tetap menyiagakan personel pengamanan. Terutama bagi rumah ibadah yang menginginkan ibadah tatap muka. Tentunya dengan catatan telah mendapatkan ijin dari Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Pemprov DIY.

Kalaupun melaksanakan ibadah tatap muka, kata dia, harus dengan kapasitas dibatasi. Tidak sampai 50 persen dari kapasitas. “Info terakhir ibadah masih onlie. Kalau ada ibadah tatap muka, Polri akan menempatkan anggotanya untuk berjaga,” ujarnya.

Sedang Gubenur DIY Hamengku Buwono (HB)  X menilai, Operasi Lilin Progo juga memiliki peran penting sebagai pengawas di lapangan dalam penegakan prokes Covid-19.  Dengan begitu, upaya antisipasi sebaran kasus menjadi lebih optimal dan menyeluruh. ”Khususnya dalam masa liburan Natal dan tahun baru. Pasti ini rentan terjadi pelanggaran prokes. Terutama masker, jaga jarak hingga berkerumun,” jelasnya.

Operasi yang berlangsung hingga 4 Januari ini awalnya fokus pada libur Natal dan Tahun Baru. Dalam kondisi normal, operasi terfokus pada pengawasan jalur-jalur wisata dan mudik. Selain itu juga kondusifitas terhadap aksi kriminalitas selama masa liburan.”Kali ini fokusnya mencegah sebaran Covid-19, agar tetap bisa merayakan Natal dan tahun baru dengan aman dan nyaman. Pandemi harus lebih peduli jangan sampai kegiatan perayaan natal dan tahun baru malah menjadi klaster baru,” katanya. (dwi/pra)

Hukum Kriminal