RADAR JOGJA – Seorang janda berinisial YN (40), warga Pakualaman kota Jogja nekat  menggelapkan uang perusahaan senilai kurang lebih Rp 8,9 miliar.

Modus yang diterapkan tersangka tergolong nekat. Berupa pencairan cek perusahaan untuk kepentingan pribadi. Uang milik karyawan itu justru tidak disetorkan sebagaimana mestinya.

“Terbongkar setelah ada audit dan keterangan dari pihak bank. Terdeteksi ada penyelewengan dana perusahaan pada medio 2018 hingga 2019. Tercatat ada pencarian cek sebanyak 163 lembar,” jelas Kasatreskrim Polres Sleman AKP Deni Irwansyah ditemui di Mapolres Sleman, Selasa (22/12).

Deni menambahkan, nominal total dalam pencarian tersebut mencapai diatas Rp 21,6 Miliar. Dari total tersebut anggaran yang tidak masuk perusahaan mencapai Rp 8,9 Miliar. Alhasil pihak perusahaan langsung mengklarifikasi hasil audit temuan ini kepada YN.

Hasil penyidikan menemukan fakta lain. Uang hasil penggelapan ditransfer ke rekening milik almarhum suami. Alhasil polisi belum bisa membuka besaran uang dalam rekening tersebut.

“Jadi sebagian ada yang ditransfer ke rekening almarhum suaminya, lalu sebagian lainnya digunakan untuk kepentingan pribadi,” tambahnya.

Sejatinya cara kekeluargaan sempat ditempuh oleh pihak perusahaan.  Berupa kesempatan untuk mengembalikan uang perusahaan. Pada awalnya YN berjanji akan mengembalikan perusahaan sebanyak Rp 4 Miliar.

“Janjinya 27 Maret 2020 siap mengembalikan uang sebanyak Rp 4 Miliar. Tapi justru tidak dipenuhi dan malah menghilang tanpa kabar. Akhirnya lanjut ke proses hukum,” ujarnya.

Pasca pelaporan, polisi langsung melacak keberadaan tersangka. Hingga akhirnya terdeteksi di sekitar wilayah Kecamatan Kotagede Kota Jogja. Tersangka bersembunyi dengan mengontrak rumah di wilayah tersebut.

Akibat dari aksinya ini, tersangka YN dijerat dengan pasal berlapis. Mulai dari Pasal 374 KUHP atau Pasal 372 KUHP. Ditambah junto Pasal 64 KUHP. Ancaman hukuman berupa kurungan penjara maksimal 4 tahun.

“Untuk barang bukti ada satu bendel rekening koran dari BCA, Permata, OCBC NISP dan bank lainnya periode 2018 hingga 2019. Adapula satu bendel audit dari perusahaan tempat tersangka bekerja,” katanya.(dwi/sky)

Hukum Kriminal