RADAR JOGJA – Aksi kejahatan jalanan oleh anak bawah umur atau klitih mulai bermunculan. Setidaknya ada 6 kasus yang ditangani oleh Polres Sleman sejak awal Desember. Seluruhnya didominasi oleh pelaku bawah umur.

Kasatreskrim Polres Sleman AKP Deni Irwansyah mengatakan,”mulai muncul lagi sejak awal Desember ini. Kalau motif biasanya untuk menunjukkan eksistensi di masyarakat maupun sekolah. Bisa dibilang agar dapat pengakuan,” ujarnya ditemui di Mapolres Sleman, Rabu (16/12).

Deni menambahkan, para tersangka mayoritas membawa senjata tajam. Dari setiap kasus, berhasil diamankan setidaknya 1 hingga 2 tersangka. Terbaru adalah aksi tawuran antara dua kelompok pelajar dari sekolah yang sama dari Kabupaten Bantul.

Walau didominasi bawah umur, Demi memastikan tetap ada langkah tegas. Proses hukum berlanjut sesuai dengan jeratan pasal yang berlaku. Hanya saja proses penyidikan dan persidangan tetap mengacu pada Undang-Undang Perlindungan Anak.

“Upaya preventif sudah ada dengan patroli rutin. Ada penempatan di sejumlah titik rawan. Melibatkan pasukan gabungan dari Polsek dan Polres,” tambahnya.

Sosiolog UGM Suprapto mengatakan ada perubahan karakter kelompok atau Genk pelajar. Kali ini mulai tak terafiliasi dalam satu sekolah. Artinya anggotanya mulai beragam dari berbagai sekolah.

Afiliasi kelompok juga semakin luas. Tak hanya terfokus pada kelompok dan usia yang sama. Kelompok-kelompok pelajar juga mulai berkomunikasi dengan kelompok yang lebih besar.

“Sekarang seperti itu skemanya. Lalu bergabung dengan kelompok yang lebih besar. Terjadi simbiosis, untuk mencari perlindungan, tapi juga dimanfaatkan oleh kelompok yang lebih besar,” ujarnya.

Sementara untuk motivasi, Suprapto menduga ada beragam. Hanya saja dari hasil kajiannya adalah pelampiasan kekecewaan. Baik pelampiasan kekecewaan atas lingkungan keluarga, sekolah maupun lingkungan masyarakat.

Hasil kajian kedua adalah eksistensi diri. Demi mendapat pengakuan dari lingkungan hingga nekat melakukan pelanggaran hukum. Termasuk tidak memikirkan konsekuensi berhadapan dengan pihak kepolisian.

“Mayoritas sebagai pelampiasan kekecewaan. Ada juga rasa jenuh. Tapi kalau jenuhnya di rumah lalu murni kumpul itu tidak masalah. Jadi negatif kalau ada pengaruh jelek dari luar, termasuk bertindak kriminal,” katanya.(dwi/sky)

Hukum Kriminal