RADAR JOGJA – Lama tertidur, aksi kejahatan jalanan yang melibatkan anak bawah umur kembali terjadi. Dua anak berusia 16 tahun ditangkap di tempat dan waktu yang berbeda di wilayah hukum Polres Sleman. Masing-masing didapati membawa senjata tajam jenis clurit dan menyerupai gergaji.

Penangkapan pertama berlangsung Sabtu dini hari (5/12) tepatnya pukul 03.00. Jajaran Polsek Depok Timur berhasil mengamankan anak berhadapan dengan hukum (ABH) berinisial ADS. Remaja putus sekolah ini kedapatan membawa clurit dan sempat mengancam pengguna jalan raya.

“Saat itu ADS melintas di kawasan Jalan Raya Solo KM 9 Kalongan, Maguwoharjo. Mengendarai Honda Beat berjalan zig-zag sambil mengacungkan clurit,” jelas Kasatreskrim Polres Sleman AKP Deni Irwansyah ditemui di Mapolres Sleman, Jumat (11/12).

Clurit, lanjutnya, tak hanya sekadar diacunhkan. Senjata taham ini turut diarahkan kepada pengendara kendaraan bermotor yang melintas. Bahkan pelaku juga sempat mengejar sebuah truk.

Deni menuturkan, pelaku ABH kesal. Alasannya kendaraan truk menyalip saat berpapasan searah di jalan raya Solo. Hingga akhirnya ADS mengejar dan mengacungkan clurit ke arah supir truk. “Tidak terima disalip lalu memakai clurit itu untuk mengancam. Personel dari Polsek Depok Timur langsung mengamankan tak berselang waktu lama,” katanya.

Selang sehari (6/12) aksi serupa kembali terjadi di wilayah hukum Polsek Gamping. Bedanya senjata yang dibawa berjenis gergaji. Hanya saja ukurannya lebih besar dengan mata gergaji mencuat.

Si pembawa gergaji ini adalah ABH berinisial WGP alias Gogon. Anak berusia 16 tahun ini diamankan di simpangempat Demak Ijo Banyuraden Gamping, Minggu dini hari (6/12). Tak sendiri, Gogon membonceng saksi HI.
“Berhasil ditangkap karena saat melintas simpangempat Demak Ijo Honda Scoopy yang dinaiki jatuh setelah menabrak pembatas jalan. Gergaji yang diduduki oleh WGP juga terjatuh, langsung diamankan personel yang kebetulan patroli,” ujarnya.

Kepada petugas, WGP mengaku sempat dikejar gerombolan lainnya. Bahkan WGP beralibi sempat mendapatkan ancaman. Berupa penyabetan senjata tajam saat berpapasan di depan kampus UMY ringroad barat.

Terkait gergaji, WGP mengaku sebagai alat jaga diri. Terlebih WGP memang ada niat untuk berkelahi. Dibuktikan dengan bukti percakapan di gawai miliknya. Berupa tantangan untuk bertemu di sekitar wilayah Kecamatan Gamping.

“Dia lalu mengajak saksi HI untuk mencari penantang itu. Lalu ketemulah dengan kelompok lain di depan UMY dan sempat kejar-kejaran sebelum akhirnya motor yang dikendarai WGP dan HI jatuh menabrak pembatas jalan,” katanya.

Walau berstatus ABH, Deni memastikan proses hukum keduanya tetap berlanjut. Hanya saja proses penyidikan dan peradilan mengacu pada UU Perlindungan Anak. Selama proses penyidikan, kedua pelaku tidak ditahan.
Untuk pelaku ABH inisial ADS dititipkan ke Kantor Balai Perlindungan dan Rehabilitasi Sosial Remaja milik Dinas Sosial DIJ. Sementara WGP menjalani wajib lapor di Polsek Gamping setiap minggunya.

“Kami tegaskan kasus tetap berlanjut meski tidak ditahan. Perkara tetap proses sesuai dengan mekanisme dan prosedur yang ada,” tegasnya.

Keduanya diancam dengan pasal yang sama. Tepatnya Pasal 2 Ayat (1) UU Darurat RI Nomor 12 Tahun 1951 junto UU Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Anak. Dengan ancaman pidana penjara 10 tahun.

“Ini seharusnya menjadi catatan para orang tua agar bisa mengawasi anaknya. Kedua anak sudah putus sekolah sejak SMP. Catatan pergaulan di lingkungan juga berdampak negatif. Kedua pelaku juga sempat mengonsumsi miras,” ujarnya. (dwi/ila)

Hukum Kriminal