RADAR JOGJA- Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jogjakarta, menjatuhkan hukuman penjara masing-masing empat bulan bagi pasangan suami-isteri, Agus Artadi dan isterinya Yenny Indarto.

Dalam sidangnya yang digelar Kamis (17/12)sore, hakim menyatakan pasangan ini bersalah melanggar pasal 167 ayat 1 juncto pasal 55 ayat 1 KUHP.

Terhadap putusan tersebut, terpidana langsung menyatakan banding, sementara Jaksa Penuntut Umum Edi Budiyanto menyatakan pikir-pikir.

“Menjatuhkan hukuman penjara masing-masing empat bulan,” kata Bandung Suhermoyo. Vonis ini, lni lebih rendah dibandingkan dengan tuntutan Jaksa Penuntut Umum.

Kasus yang menimpa pasangan suami isteri ini berawal dari utang keduanya di Bank BPD DIY Cabang Wates dengan agunan tanah beserta rumah mereka di Jalan Magelang, Tegalrejo, Jogja yang nyaris macet. Bank bahkan kemudian akan melelangnya.

Untuk menyelesaikan utang tersebut, pasangan Agus Artadi dan Yenny Indarto kemudian berencana menjual rumah dan tanahnya itu.

Akhirnya melalui rekan bisnis mereka, muncullah nama Yulia dan Gemawan Wahyadhiatmika yang berniat membeli rumah tersebut, Dalam perjalanannya kemudian terjadi kesepakatan, rumah dan tanah dijual dengan harga Rp6,5 miliar.

Namun, dalam proses pembayarannya, pasangan ini menganggap masih belum selesai karena pembayaran masih kurang Rp1,5 miliar. Meski demikian, kepemilikan sertifikat hak atas tanah sudah beralih atas nama pembeli. Karena masih menganggap belum ada pelunasan, maka pasangan ini tidak mau meninggalkan rumah yang ditempatinya selama bertahun-tahun ini.

Oleh pembeli, kemudian dilaporkan ke polisi dan sehingga kasus ini berproses hingga pengadilan.

Penasihat Hukum Agus Artadi dan Yenny Indarto, Menurut Oncan Poerba putusan itu janggal.

“Karena sejak awal apa yang kita sampaikan itu adalah menyangkut jual beli dan terkait dengan keperdataan, ada hal-hal yang tidak ditempatkan pada posisinya. Harusnya klien kami bebas,” ujarnya.

Oncan Poerba menegaskan, segera setelah putusan tersebut, menyatakan banding.

Menurut dia, kasus tersebut sebenarnya kasus perdata, namun dipaksakan menjadi kasus pidana. Ia mengungkapkan, denghan putusan Majelis Hakim yangh menghukum kliennya, tidak sertga merta terjadi putusan eksekusi yang mewajibkan kliennya meyerahkan tanah beserta rumahnya kepada Yulia Gemawan.  (sky)

Hukum Kriminal