RADAR JOGJA- Setelah 7 tahun misterius, kasus penemuan mayat perempuan korban pembunuhan yang terjadi pada 4 februari 2013, di kebun salak  candibinangun pakem sleman, akhirnya terkuak. pelakunya, ebp (39) warga dusun dawuhan kidul, kecamatan papar, kediri jawa timur, berhasil ditangkap. sedangkan korban sri utami (40) warga karangasem, muntuk, dlingo, bantul.

Direktur Direktorat Kriminal Umum (Dirreskrimum) Polda DIJ Kombes Pol Burkan Rudi Satria mengakui tak mudah mengungkap kasus. Ini karena minimnya bukti dan keterangan saksi. Kala itu saksi yang menuturkan kode wilayah plat nomor dan jenis merk kendaraan bermotor.

“Saat itu keterangannya hanya sejenis motor sport tapi bukan buatan Jepang. Lalu kami telusuri lagi dan didapatkan motor jenis Bajaj Pulsar dengan plat depan kode wilayah AG,” jelasnya dalam ungkap kasus di lobi Mapolda DIJ, Kamis (3/12).

Sempat tertidur 7 tahun, kasus mulai didalami kembali. Penyelidikan intens berlangsung selama 6 bulan terakhir. Hingga muncul sebuah titik terang identitas pelaku. Bermodalkan identitas kendaraan lalu munculah nama Eko Budi Prayitno. Beralamatkan Dusun Dawuhan Kidul Kecamatan Papar, Kabupaten Kediri Jawa Timur.

Tim gabungan Polsek Pakem, Polres Sleman dan Polda DIJ langsung menuju lokasi. Setibanya di kediaman terduga pelaku didapati alamat baru. Hingga akhirnya pencarian berakhir di kawasan Sidoarjo Jawa Timur.

“Baru kami tangkap rabu (2/12) di Sidoarjo. Berawal dari pencarian identitas pemilik kendaraan Bajaj Pulsar berplat AG. Tersangka EBP ini kelahiran 1981 Dusuh Dawuhan Kidul Kecamatan Papar Kabupaten Kediri,” katanya.

Pasca penangkapan pelaku, identitas korban sontak terungkap. Sosok mayat perempuan di kebun salak itu bernama Sri Utami. Tercatat sebagai warga Dusun Karangasem, Desa Muntuk Dlingo Bantul. Berstatus janda anak dua dan kelahiran 20 Februari 1980.

Misteriusnya identitas korban sendiri karena tidak ada laporan kehilangan oleh warga. Bahkan hingga identitas terungkap, tidak ditemukan adanya laporan ke kepolisian. Hingga akhirnya personel Ditreskrimum Polda DIJ melakukan klarifikasi ke alamat keluarga korban.

“Jadi kami tahu identitasnya juga dari tersangka, kemarin itu. Sekian tahun misterius iki sopo. Sampai dikubur tidak ada yang mencari. Setelah tersangka bilang nama dan alamat, lalu kami konfirmasi dibenarkan itu anggota keluarganya,” ujarnya.

Berdasarkan keterangan sementara, pelaku mengaku cemburu. Ini karena Eko kerap dibanding-bandingkan dengan lainnya. Hingga akhirnya memuncak dan muncul ide untuk menghabisi nyawa korban.

Korban, lanjutnya, dipukul helm oleh tersangka. Tak cukup sampai disitu, Eko juga mencekik leher korban dan membenturkan kepala ke batu. Untuk meyakinkan tak bernyawa, Eko juga menginjak-injak tubuh korban.

“Diduga kuat ada hubungan asmara tapi belum menikah. Barang bukti di TKP itu kaca helm tertinggal di kebun salak dan ini cocok dengan helm full face Yamaha milik tersangka yang dipakai untuk memukuli korban,” katanya.

Kasus ini sendiri berawal dari penemuan mayat perempuan di kebun salak daerah Candibinangun Pakem. Tepatnya 4 Februari 2013 di kebun milik Sarjono. Kala itu sang pemilik yang hendak memanen salak dikejutkan dengan bau busuk.

Sarjono, cerita Burkan, menelusuri kebun miliknya. Hingga akhirnya ditemukan tumpukan daun salak mencurigakan. Saat dibongkar, diketahui dibawahnya terdapat mayat perempuan. Sarjono langsung melaporkan penemuan mayat ke Polsek Pakem.

“Saat itu mayat sudah membusuk dan tidak ada identitas yang melekat, sidik jari juga sudah rusak. Satu-satunya petunjuk hanya daster biru yang menempel di tubuh korban. Saat ditemukan, ada luka di leher, kepala dan kekuar darah dari telinga dan mulut,” ujarnya.

Atas tindakannya ini, Eko diancam dengan Pasal 338 KUHP. Dapat pula dijerat dengan pasal pembunuhan berencana Pasal 340 KUHP. Ancaman hukuman maksimal 15 tahun atau hukuman seumur hidup. (dwi/sky)

Hukum Kriminal