RADAR JOGJA – Penggunaan psikotropika dan obat-obat terlarang di Jogjakarta meningkat selama pandemi Corona Virus Disease 2019 (Covid-19). Mayoritas penggunanya adalah usia pelajar rentang SMP hingga SMA. Data ini berdasarkan ungkap kasus yang dilakukan jajaran Ditresnarkoba Polda DIJ dalam rentang waktu September hingga Oktober.

Ditresnarkoba Polda DIJ menyita 50.845 butir beragam jenis psikotropika. Terbanyak adalah trihexypenidyl sebanyak 50.710 pil. Ada pula 45 butir alprazolam, 50 butir tramadol HCL, 20 butir rivotril clonazepam dan 30 butir pil berwarna kuning dan hijau.

“Seluruhnya kami sita dari tersangka inisial SAP (29), NS (31) dan TPN (23). Selama covid ini, penangkapan yang lebih banyak kepada psikotropika dan obat-obat berbahaya sedangkan untuk jenis narkotika agak berkurang,” jelas Dirresnarkoba Polda DIJ Kombes Pol Ary Satriyan, ditemui di Mapolda DIJ, Senin (2/11).

Ketiga tersangka mendapatkan pil psikotropika dari sumber yang berbeda. Mayoritas transaksinya melalui sosial media. Selain digunakan sendiri, puluhan ribu pil psikotropika ini juga diperjualbelikan.

Untuk setiap transaksi, para tersangka menjual dalam bentuk paketan. Terdiri dari 10 butir dengan harga perpaket Rp 30 ribu. Sasaran maupun konsumen didominasi oleh generasi muda khususnya pelajar.

“Mayoritad kalangan pelajar, anak SMP, SMA atau yang sudah putus sekolah. Memang favorit kalangan ini (pelajar) biasanya narkotika tidak terjangkau dan ini (psikotropika) lebih murah,” katanya.

Ketiga tersangka, lanjutnya, adalah pemasok dalam jumlah besar. Terbukti dari barang bukti yang disita dari masing-masing tersangka. Dominasinya adalah pil jenis trihexypenydil.

Dari tersangka SAP, polisi menyita 20 ribu pil trihexypenidyl, 30 butir alprazolam, 50 butir tramadol HCL, 20 butir rivotril clonazepam dan 30 butir pil berwarna kuning dan hijau. SAP ditangkap 8 September.

Dari tersangka NS, polisi menyita 10 butir alprazolam dan 5 ribu pil trihexypenidyl. Sedangkan dari tersangka TPN berhasil disita 5 butir alprazolam dan 25.710 butir trihexypenidyl.

“Wilayah edarnya sekitar Jogjakarta. Sumber pemasok dari ketiga tersangka masih DPO (daftar pencarian orang). Tersangka TPN sudah 4 kali transaksi sejak Juni. Setiap transaksi bisa sampai 16 ribu pil,” ujarnya.

Ketiga tersangka dijerat dengan pasal berlapis. Mulai dari Pasal 62 Undang-Undang RI No 5 Tahun 1997 tentang Psikotropika. Pasal 196 UU RI No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan.

“Ancaman hukuman dengan Pasal 62 adalah penjara maksimal 5 tahun dan denda Rp 100 juta. Untuk pasal 196 ancaman hukumannya adalah denda maksimal Rp 100 juta,” tegas Kabid Humas Polda DIJ Kombes Pol Yuliyanto. (dwi/tif)

Hukum Kriminal