RADAR JOGJA – Jalan pikiran Todi Suryo Jatmiko tak cukup panjang. Mengeluh tak memiliki pekerjaan dan penghasilan tetap, pria berusia 30 tahun ini nekat mencetak uang palsu. Tujuannya untuk memenuhi kehidupannya sehari-hari.

Cara beraksi pria asal Banguntapan, Bantul ini memang tergolong nekat. Modalnya hanya dua lembar uang asli pecahan Rp 50 ribu dan Rp 100 ribu. Ditambah printer scanning Canon seri G2010. “Dari tangan pelaku kami berhasil menyita uang sebesar Rp 450 ribu. Dari yang pecahan asli lalu dicetak menjadi tujuh lembar uang Rp 50 ribu dan satu lembar uang Rp 100 ribu,” jelas Wakapolres Sleman Kompol Akbar Bantilan ditemui di Mapolres Sleman, Rabu (30/9).

Hasil penyidikan, latar belakang kejahatan adalah kebutuhan pribadi. Tak punya uang dan pekerjaan tetap hingga muncul ide kreatif. Terlebih pekerjaannya hanya serabutan di salah satu wisma di Jalan Kaliurang. Tersangka, lanjutnya, mengerjakan seorang diri. Mulai dari memindai yang asli lalu mencetak ke kertas HVS. Lalu lembaran uang palsu dia potong secara presisi sesuai ukuran uang asli.

“Di-scan lalu dipotong-potong sendiri. Kalau diperhatikan nomor seri dari uang palsu ini sama semua. Jenis kertasnya juga berbeda sekali,” katanya.

Aksi pria ini terbongkar usai membelanjakan uang produksinya. Pada awalnya Todi berhasil mengelabui pemilik toko kelontong di Jalan Affandi. Merasa tak ada kendala, Todi mengulangi kejahatan yang sama.

Sayangnya aksi keduanya ini telah tercium pemilik toko. Berawal dari kecurigaan saat berbelanja pertama kali. Todi menggunakan dua uang pecahan Rp 50 ribu untuk belanja. Kali kedua belanja sebesar Rp 150 ribu.

“Kejadiannya 22 September, awalnya belanja Rp 100 ribu dan berhasil. Datang lagi belanja Rp 150 ribu tapi langsung ditangkap sama pemilik toko dan diserahkan ke Polsek Bulaksumur,” ujarnya.

Penyesalan selalu datang terlambat. Akibat aksinya ini Todi dijerat dengan pasal berlapis. Pertama adalah Pasal 244 KUHP. Lalu juncto Pasal 36 Undang-Undang RI Nomor 7 Tahun 2011 tentang Mata Uang. “Ancaman hukuman untuk aksinya ini adalah pidana 15 tahun dan pidana 10 tahun untuk masing-masing pasal,” tegasnya.

Kepala Seksi Pengelolaan Uang Rupiah Bank Indonesia Kadek Budi Harsana meminta warga lebih cermat. Sejatinya ada perbedaan mencolok antara uang asli dan uang palsu. Sehingga perlu lebih cermat saat melakukan transaksi fisik. Cara sederhana membedakan adalah dengan 3D. Berupa diraba, dilihat dan diterawang setiap uang yang diterima. Bisa juga dengan pemindaian dengan alat sinar ultraviolet.

“Kalau pakai sinar UV itu uang asli bisa memendar. Kalau pakai 3D, salah satu acuannya adalah adanya benang di tengah uang. Lalu pada angka dan huruf nominal sedikit kasar,” katanya. (dwi/ila)

Hukum Kriminal