RADAR JOGJA – Tergiur keuntungan berlipat tanpa bekerja keras, trio Agung, Aris dan Jimmi dibekuk jajaran Satreskrim Polres Sleman. Modus yang mereka gunakan adalah penggandaan uang tunai. Memanfaatkan mesin printer modifikasi sebagai alat penipuan.

Terbongkarnya aksi ini berkat penyamaran penyidik Satreskrim Polres Sleman. Berpura-pura menjadi konsumen yang tertarik dengan modus ketiga tersangka. Hingga akhirnya berhasil diamankan di salah satu Hotel di kawasan jalan Kaliurang Km 15.

“Jadi modus operandinya adalah menawarkan kepada masyarakat bahwa yang bersangkutan bisa menggandakan uang dengan persentase Rp 60 juta uang asli ditukar menjadi Rp 700 juta,” jelas Kasatreskrim Polres Sleman AKP Deni Irwansyah di Mapolres Sleman, Selasa (4/8).

Ketiga tersangka, lanjutnya, menerapkan uang muka 10 persen sebagai tanda jadi awal sebelum penggandaan uang dimulai. Uang inilah yang rencananya digunakan sebagai biaya operasional dan bagi untung.

Terkait cara kerja, ketiga pelaku memanfaatkan uang kertas putih. Selanjutnya dipotong sesuai ukuran uang kertas pecahan Rp 100 ribu. Kertas tersebut lalu dimasukan kedalam mesin untuk kemudian diproses menjadi pecahan Rp 100 ribu.

Dalam memikat calon korbannya, ketiga pelaku juga membuat video. Isinya berupa detil penggandaan uang dengan mesin. Berdurasi sekitar 60 detik, video tersebut memanipulasi seakan penggandaan uang terjadi.

“Petugas kami yang menyamar menyerahkan uang muka Rp 5 juta. Saat bertemu di hotel, tersangka juga menunjukan teknisnya. Bisa mempraktekkan 9 lembar uang Rp 100 ribu,” katanya.

Penyamaran masih berlanjut untuk mendalami modus tersangka. Kali ini menyamar sebagai pendana. Tindakan ini mampu memancing para pelaku. Hanya saja kali ini berkilah membutuhkan dana sebesar Rp 280 juta. Fungsinya untuk pembelian tinta uang.

Berkat penyamaran inipula terbongkar seluruh modus tersangka. Mesin yang diklaim berasal dari Australia ternyata hanya mesin printer biasa. Hanya saja tersamarkan dalam kotak besi baja berwarna hitam.

“Mulai dari video itu sudah manipulasi. Lalu mesin itu dalamnya printer. Sebagai uji coba pakai uang asli. Diujung dikasih ultraviolet agar meyakinkan korbannya,” ujarnya. 

Setiap tersangka memiliki peran masing-masing. Mulai dari mencari calon korban hingga mengoperasikan alat. Korbannya cenderung terbatas atau dalam jaringan terdekat pelaku.

Walau belum ada korban namun perbuatan ketiga tersangka tetap menyalahi hukum. Ketiganya dijerat dengan Pasal 378 KUHP. Ancaman hukuman yang menanti adalah kurungan paling lama empat tahun penjara.

“Belum ada korban tapi tetap kami jerat hukum. Kalau latar belakang kebutuhan ekonomi sehingga nekat untuk menipu,” katanya.

Penggagas aksi penipuan Jimmi alias Pak Tua mengaku terpaksa, dengan alibi terhimpit kebutuhan ekonomi. Ide ini dia dapatkan usai menonton video di YouTube. Tertarik dengan modus kejahatan itu, Pak Tua lalu mengajak Agung dan Arif.

Pak Tua juga sempat mempraktekan teknik penggandaan uang. Potongan kertas putih dimasukan ke dalam mesin. Setelah tombol ditekan, keluarlah uang tunai pecahan Rp 100 ribu.

“Pakai uang asli awalnya, jadi saat lewat ultraviolet terbaca tanda airnya. Untuk meyakinkan saja,” ujarnya. (dwi/tif)

Hukum Kriminal