RADAR JOGJA – Terbongkarnya aksi Bambang Ariyanto berkat pengakuan salah satu korban penelitian berinisial IDA. Bersama korban lainnya, IDA langsung menemui Bambang. Dari pengakuan pelaku terungkap setidaknya ada 300 korban sejak 2014.

IDA menuturkan korban dari Bambang beragam. Hanya saja mayoritas adalah akademisi, peneliti dan psikolog. Modusnya adalah ketergantungan terhadap penyimpangan seksual bertukar pasangan atau swinger.

“Kemarin saat ketemu ditanya korbannya berapa, bilang banyak tidak dihitung. Lalu bilang seminggu ada yang baru. Setahun itu 52 Minggu, beraksi sejak 2014. Jadi kalau dikalikan ada sekitar 300 korbannya. Angka ini diiyakan,” jelasnya dihubungi melalui sambungan telepon, Senin (3/8).

IDA menduga jumlah korban dari Bambang ini masih bertambah. Terbukti dari masih adanya keluhan serupa kepadanya. Baik melalui kolom komentar Facebook miliknya, lewat Facebook Messenger maupun pesan pribadi.
Dari komentar-komentar tersebut ada yang tidak sadar telah menjadi korban pelecehan seksual. Hanya saja modus yang diterapkan serupa. Berupa dalih penelitian tentang bertukar pasangan.

“Masih bermunculan komentar-komentar itu. Ada yang iba sehingga butuh dibantu untuk didengarkan, ternyata itu modus. Isinya vulgar sekali, ada yang ngirim video porno atau foto jorok,” katanya.

Bambang, lanjutnya, juga memanfaatkan akun Facebook milik istrinya. Mengaku mendapat perlakuan tak mengenakan selama menjalani biduk rumah tangga. Modus ini untuk mencari empati dari para calon korbannya.

Hingga kini pihaknya terus mengkoordinir para korban. Tercatat sudah ada sekitar 50 korban yang telah berkomunikasi dengannya. Selanjutnya mengumpulkan sejumlah bukti. Beberapa di antaranya adalah tangkapan layar percakapan di WhatsApp maupun Facebook Messenger.

“Kejadian onani di depan psikolog tahun 2015 dan psikolog bersedia memberi kesaksian. Screenshot ada 30an, dia detil, vulgar seperti novel biru. Memang menikmati dari cerita itu. Menyalahgunakan rasa iba
perempuan,” ujarnya.

Kepala Bagian Humas dan Protokol UGM Iva Ariyani turut angkat bicara. Terlebih sosok Bambang sempat menyebutkan nama UGM dalam video permintaan maaf. Pihaknya masih melakukan kajian atas permasalahan guna merumuskan langkah selanjutnya.

Iva mempersilakan para korban, khusunya yang berasal dari UGM untuk melapor. Salah satunya melalui layanan pencegahan kekerasan seksual milik kampus di laman ult.ugm.ac.id. Jajarannya siap melakukan pendampingan kepada korban apabila diperlukan.

“Kami sedang mempelajari untuk langkah yang tepat. Tapi secara umum UGM sangat menyayangkan kejadian tersebut dan jika memang berhubungan dengan civitas UGM, akan diambil tindakan tegas,” katanya.

Kabid Humas Polda DIJ Kombes Pol Yuliyanto memastikan belum ada laporan dari korban pelecehan. Pihaknya telah melakukan pengecekan ke sejumlah Polsek, Polres hingga Polda. Hasilnya belum ada laporan terkait kasus pelecehan tersebut.

Perwira menengah tiga melati ini tak menampik atas skema laporan tipe A. Langkah ini pernah diambil saat kasus pelecehan sesksual dalam kasus KKN UGM. Hanya saja tetap perlu ada pengaduan dari pihak yang dirugikan.

“Korban silakan melapor ke kantor polisi terdekat. Polda kurun waktu 3 hari ini belum ada laporan. Kalaupun tipe A tetap ada pengaduan ke kami,” ujarnya. (dwi/tif)

Hukum Kriminal