RADAR JOGJA – Peringatan Hari Anak Nasional terciderai akibat ulah Sumadiyono. Pria berusia 44 tahun ini tega menganiaya seorang bocah laki-laki berinisial A. Imbasnya anak berusia 8 tahun ini mengalami pendarahan di bagian kepala dan patah tulang kaki.

Peristiwa ini berawal saat A, bersama dua temannya, R, 7, dan T, 8 bermain di sekitar kediaman pelaku. Ketiga bocah ini juga melihat pelaku di teras rumahnya. Hingga akhirnya terjadilah penganiayaan tersebut.

“Korban dan pelaku ini tetangga tapi beda RT. Pelaku tinggal di Mayangan tapi alamat aslinya warga Sinduadi Mlati. Kalau penganiayaan terjadinya Sabtu 11 Juli,” jelas Kanit Reskrim Polsek Gamping Iptu Tito Satria Pradana dihubungi melalui sambungan telepon, Kamis (23/7).

Perwira pertama dua balok ini menceritakan detil kejadian. Kejadian terjadi Sabtu pagi (11/7) pukul 10.30. Awalnya ketiga bocah ini tengah menyusuri jalan Kampung di Desa Mayangan Trihanggo Gamping. Lalu menuju kediaman Sumadiyono.

Saat melintas inilah, diduga ketiga bocah mengejek Sumadiyono. Tak terima dengan ejekan itu, pelaku langsung mengejar ketiga bocah. Hingga akhirnya korban inisial A ditangkap oleh pelaku.

Sumadiyono dengan tega menganiaya A dengan tangan kosong. Mulai dari menginjak kaki, menjambak rambut hingga membenturkan kepala korban ke tembok. Akibat penganiayaan ini korban masih menjalani perawatan di rumah sakit.

“Akibatnya, kaki A patah dan mengalami gegar otak dan hingga kini masih dalam perawatan di rumah sakit. Korban bercerita pelaku membenturkan kepalanya ke pintu gerbang rumah, lalu menginjak kaki korban,” katanya.

Usai menganiaya, Sumadiyono menyuruh korban pulang ke rumahnya. Merasa tak puas, pelaku menyusul di belakangnya. Setibanya di rumah korban, pelaku langsung menemui ibu korban TS, 32. Pelaku mengaku telah menganiaya korban.

Sayangnya perkataan ini tak dibarengi dengan penyesalan. Pelaku justru mengumbar ancaman kepada ibu korban. Intinya adalah penganiayaan bisa berlanjut apabila A bukanlah usia bocah.

“Pelaku bilang ke ibunya, anakmu dikandani untung iseh cilik, nek gede tak ajar. Jadi memang tidak ada penyesalan,” ujarnya.

Mantan Kanit Reskrim Polsek Bulaksumur ini menuturkan korban awalnya tak cerita ke ibunya. Hingga akhirnya pelaku datang dengan pengakuannya. Setelah didesak, korban mengaku telah dianiaya oleh Sumadiyono.

“Setelah didesak korban cerita merasakan sakit pada kepala bagian belakang, kemudian dibawa rumah sakit untuk mengetahui kondisi anaknya,” katanya.

Setibanya di rumah sakit korban langsung masuk ruang tindakan. Analisa medis menyebutkan korban mengalami patah tulang pada punggung, kaki kanan dan pendarahan pada otak. Korban juga mengalami trauma psikis. 

Selang waktu, keluarga korban langsung melaporkan kejadian ke Polsek Gamping. Pelaku berhasil ditangkap di sekitar jalan Kabupaten, Sleman, Rabu siang (22/7). Saat ini pelaku sudah ditahan di Mapolsek Gamping. 

“Pelaku mengaku emosi, karena sebelumnya diejek korban dan teman-temannya. Usai diperiksa pelaku langsung ditetapkan tersangka dan lakukan penahanan,” ujarnya.

Akibat perbuatan ini Sumadiyono dijerat dengan Pasal 88 Undang-Undang Perlindungan Anak Junto Pasal 351 KUHP. Pelaku sempat mengaku menyesal atas perbuatannya. Walau begitu penyesalan ini tak menghapuskan hukuman pidana.

“Tetap kami proses, pelaku kami jerat dengan pasal berlapis. Untuk ancaman hukuman penjara maksimal 15 tahun,” tegasnya. (dwi/tif)

Hukum Kriminal