RADAR JOGJA – Jajaran Polda DIJ mengungkap 86 kasus selama Operasi Penyakit Masyarakat (Pekat) Progo 2020. Dari total kasus tersebut diamankan 122 tersangka. Ada pula barang bukti yang turut diamankan mencapai 1.288 barang bukti. Semuanya hasil operasi dari 3 Juli hingga 12 Juli. 

Direktur Direktorat Reserse Kriminal Umum (Dirreskrimum) Polda DIJ Kombes Pol Burkan Rudi Satria menuturkan hasil operasi meningkat dari target awal. Disebutkan bahwa untuk kasus awalnya ada 27 yang masuk target operasi. Saat pelaksanaan operasi pekat turut terjaring 59 kasus non target operasi.

“Untuk tersangka yang TO itu ada 43 orang dengan barang bukti 334. Tapi kami juga berhasil ungkap 79 kasus non TO dengan barang bukti 964. Jadi memang ada lonjakan untuk kasus non TO,” jelasnya ditemui Gedung Anton Soedjarwo Polda DIJ, Senin (13/7).

Polisi juga mengamankan ribuan barang bukti dari kejahatan yang berbeda. Untuk perjudian terdapat 53 TO dan 65 non TO. Untuk minuman beralkohol (mihol) mencapai 223 TO dan 591 non TO. Prostitusi 25 TO dan 15 non TO. Narkotika mencapai 292 non TO. Kejahatan jalanan mencapai 23 TO dan 1 non TO.

Untuk data ungkap kasus Ditreskrimum Polda DIJ mencapai 5 kasus TO dan 3 kasus non TO. Polresta Jogja sebanyak 5 kasus TO dan 4 kasus non TO. Polres Sleman sebanyak 5 kasus TO dan 4 kasus non TO.

Ada pula Polres Bantul sebanyak 4 kasus TO dan 3 kasus non TO. Polres Kulonprogo sebanyak 4 kasus TP dan 20 kasus non TO. Polres Gunungkidul sebanyak 4 kasus TO dan 2 kasus non TO.

“Dominasi tertinggi ada di kasus miras dengan total 814 barang bukti. Itu yang masuk TO ada 223 lalu yang non TO ada 591,” katanya.

Kapolres Sleman medio 2017 ini turut menjelaskan detil barang bukti. Untuk perjudian jajarannya berhasil mengamankan alat judi dadu koprok, judi togel dan uang tunai sebesar Rp 15,9 juta. Adapula gawai yang digunakan sebagai perangkat transaksi.

Kawasan Gunungkidul lokasi perjudian berada di Kecamatan Ponjong dan Rongkop. Kabupaten Bantul berada di Kecamatan Sedayu dan Banguntapan. Sementara untuk Kabupaten Bantul berada di Kecamatan Sleman, Kecamatan Mlati, Kecamatan Prambanan dan Kecamatan Depok.

“Untuk kasus perjudian paling banyak terjadi di Kabupaten Kulonprogo. Kasusnya paling mendominasi,” bebernya.

Untuk kasus prostitusi didominasi jaringan online. Sistem transaksi yang digunakan memanfaatkan media sosial. Barang bukti yang diamankan adalah sejumlah uang tunai, alat kontrasepsi, gawai dan kuitansi pembayaran.

“Untuk prostitusi online ini ada lima kasus. Para tersangka kami jerat dengan pasal 1 angka 1 Undang Undang Nomor 21 tahun 2007.  Ancaman hukuman penjara maksimal 15 tahun,” ujarnya.

Perwira menengah tiga melati ini turut menyoroti kasus mihol. Tercatat ada 55 kasus yang berhasil diungkap selama masa operasi Pekat Progo 2020. Dari total kasus tersebut dua diantaranya berstatus pelajar tingkat SMA. 

Jajarannya juga mendata kawasan rawan terjadinya kejahatan jalanan. Khususnya adalah aksi pencurian dengan kekerasan kasus jambret. Diantaranya Kecamatan Mantrijeron, Kotagede dan Kecamatan Gondomanan untuk wilayah Kota Jogja. Untuk Kulonprogo berada di kawasan Kecamatan Nanggulan. Sementara untuk Bantul berada di Kecamatan Banguntapan.

“Yang paling fenomenal itu jambret yang kemarin baru diamankan oleh Polresta Jogja. Pelaku ini spesialis beraksi di pagi hari. Sasarannya ibu-ibu, modusnya tanya alamat. Saat korbannya lengah langsung merampas kalungnya,” katanya.

Kabid Humas Polda DIJ Kombes Pol Yuliyanto meminta warga tak segan melapor. Apabila melihat atau menjadi korban dari aksi kejahatan. Termasuk adanya kerumunan yang meresahkan lingkungan. Termasuk transaksi mihol secara ilegal. 

“Masyarakat silahkan melapor, bisa melalui bhabinkamtibmas setiap wilayahnya. Kami tekankan walau operasi (Pekat Progo 2020) sudah selesai tapi upaya untuk menjaga kondusifitas tetap berlangsung,” pesannya. (dwi/tif)

Hukum Kriminal