RADAR JOGJA – Jajaran Satreskrim Polresta Jogja menggagalkan upaya jual beli bayi laki-laki berusia 2 bulan. Terbongkarnya aksi ini berawal dari kericuhan yang terjadi di depan RS Pratama Kota Jogja. Antara makelar bayi berinisial SBF alias Lestari, 25, dengan calon pembeli bayi inisial RA.

Warga yang mengetahui keributan ini langsung membawa keduanya ke Polsek setempat. Setelah menjalani interograsi, ternyata proses adopsi bayi ilegal. Selain tak memiliki surat juga tak melalui campur tangan pemerintah.

“Kejadiannya itu 12 Mei sekira pukul 20.30 malam. Keduanya cekcok masalah adopsi. Disini ada penyalahgunaan cara dalam proses adopsi yang dapat diketahui adanya SBF sebagai makelar atau pencari bayi,” jelas Kasat Reskrim Polresta Jogja AKP Riko Sanjaya, ditemui di Mapolresta Jogja, Selasa (7/7).

Cekcok terjadi karena RA kabur membawa bayi laki-laki tersebut. Sementara transaksi adopsi belum terjadi. Berawal dari sinilah diketahui bahwa SBF memang berprofesi sebagai makelar jual beli bayi. 

Proses transaksi mengandalkan media sosial Facebook. Tak hanya dalam menjual tapi juga mencari bayi. Skema ini juga digunakan saat SBF berkomunikasi dengan RA. Hingga disepakati untuk bertemu di kawasan jalan Kusumanegara Umbulharjo Kota Jogja.

“Bayi diiklankan di Facebook dengan caption Beby boy mencari adopter lokasi Jogja. Nah RA melihat iklan itu dan langsung menghubungi SBF dan disepakati mengganti biaya adopsi sebesar Rp 20 Juta,” katanya.

Jajarannya juga membongkar modus pencarian bayi. Berawal saat SBF melihat posting tersangka EP di grup Facebook Adopsi Bayi Jogja – Solo. Sosok perempuan ini diketahui sebagai ibu dari bayi berusia 2 bulan tersebut. Sang ibu menawarkan bayinya dengan caption seorang bayi laki-laki mencari adopter.

Berawal dari komunikasi sosial media, keduanya sepakat untuk bertemu. SBF langsung mendatangi kediaman EP di Cilacap Jawa Tengah. Dari pertemuan ini EP menjual buah hatinya seharga Rp 6 juta kepada SBF. Uang pembayaran tersebut diketahui pinjaman dari tersangka JEL.

Status EP, lanjutnya, sudah bercerai atau janda. Hanya saja memiliki seorang kekasih. Dari hubungan tersebut lahirlah bayi laki-laki. Merasa tak sanggup membiayai, EP menjual buah hatinya di Facebook. 

“Jadi tersangka EP pakai nama alias Cewek Aries di Facebook. Dia ini menjual bayinya karena tidak sanggup dalam mengurus anak tersebut dan ada biaya Rp 6 juta dalam transaksi tersebut,” ujarnya.

Sosok JEL juga memiliki peran dalam kasus perdagangan manusia ini. Diketahui bahwa JEL berprofesi sebagai bidan di wilayah Jogjakarta. Perempuan berusia 39 tahun ini juga berperan sebagai pendana dan penitipan bayi.

Pada awalnya JEL juga akan menjual bayi tersebut. Sayangnya hingga waktu berjalan tidak ada adopter. Alhasil bayi laki-laki ini dikembalikan kepada tersangka SBF. Alasan utama, JEL sudah tak sanggup membiayai kebutuhan sang bayi.

“Motif dalam melaksanakan tindakan ilegal ini motif ekonomi. Ya untuk memenuhi kehidupan sehari-hari,” katanya.

Ketiga tersangka, SBF, JEL dan EP, dijerat dengan Pasal 76 F junto Pasal 83 Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang perubahan atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Ketiganya diancam dengan kurungan penjara paling singkat 3 tahun dan paling lama 15 tahun.

“Dari hasil penyidikan baru pertama kali dilakukan. EP dengan SBF baru kenal lewat media sosial. Untuk RA karena belum terjadi transaksi maka statusnya masih sebatas saksi,” ujarnya. (dwi/tif)

Hukum Kriminal