RADAR JOGJA – Kapolsek Ngampilan Kompol Hendro Wahyono terpaksa mengambil tindakan tegas kepada FNH. Remaja berusia 17 tahun 3 bulan ini terbukti melanggar Pasal 2 Ayat (1) Undang-Undang Darurat Tahun 1951. Berupa membawa senjata tajam jenis pedang di tempat umum.

Perwira menengah satu melati ini memastikan kebijakan diversi tak berlaku untuk FNH. Berdasarkan catatan kepolisian, remaja ini memiliki catatan kriminal. Berupa tindakan penganiayaan pada medio 2018 di wilayah hukum Polsek Jetis.

“Anak berhadapan dengan hukum (ABH), saat (FNH) itu masih SMP. Tapi selesai dengan diversi sehingga hanya sampai tingkat penyidik. Untuk kasus ini, kami sudah dapat petunjuk agar tetap lanjut proses, tidak diversi,” tegasnya ditemui di Mapolsek Ngampilan, Senin (6/7).

Keputusan ini membuat siswa kelas XI sebuah SMA swasta di Kota Jogja tetap menjalani proses hukum. Termasuk menjalani masa kurungan guna menjalani penyidikan. Berbeda dengan diversi, ABH hanya dikenakan wajib lapor ke Polsek setempat.

“Dijerat UU Darurat karena meski usia anak tapi kedapatan membawa senjata tajam. Sesuai diatur dalam UU Darurat tidak diperbolehkan semua warga negara membawa senjata tajam,” jelasnya.

Terkait kronologis, awalnya ABH berinisial FNH berjumpa dengan temannya, FN, Kamis (2/7). Kemudian FNH meminta FN untuk menemani membeli minuman beralkohol (mihol) di kawasan Gedongtengen, Kota Jogja. Setelahnya keduanya kembali ke kediaman FNH.

Berdasarkan penyidikan, FNH mengonsumsi mihol sendirian. Selang waktu, tepatnya 22.00, FNH mengajak FN mencuri ikan hias jenis Koi di Jogokaryan, Jogja. Aksi tak terhenti sampai disini. FNH kembali mencoba mencuri ikan hias di kawasan Tamanan Bantul, pukul 01.00, Jumat (3/7).

“Tapi kali ini FNH bawa pedang, alasannya buat jaga-jaga apabila ketahuan. Ternyata pemilik akuarium tahu dan berteriak maling. Karena panik, FNH sabetkan pedang untuk menakuti pemilik rumah. Sempat merusak aquarium sebelum akhirnya kabur ke jalan Tamansiswa,” katanya.

Pelarian di jalan Tamansiswa menarik perhatian warga dan sejumlah ojek online. FNH dengan sengaja menyeret pedang yang dibawanya ke permukaan aspal. Pedang sepanjang 71,5 centimeter itu diseret sejak di jalan Tamansiswa, jalan Sultan Agung, jalan Panembahan Senopati dan berakhir di simpangtiga jalan Nyai Ahmad Dahlan.

“Saat sampai jalan Nyai Ahmad Dahlan, FNH berhenti dan turun dari motor lalu menghadang yang mengejar. Sempat nyabet tapi saksi bisa menghindar. Lalu saksi kedua menabrak tersangka dengan motor. FNH terjatuh dan pedang lepas dan berhasil diamankan saksi,” ujarnya.

Mengetahui warga mulai berkerumun, FNH melanjutkan pelarian diri. Dia meminta FN memacu kendaraan bermotor roda dua menuju simpangempat Wirobrajan. Setelahnya menuju arah selatan dan berbalik menuju jalan Parangtritis.

Dalam pelarian ini, FNH sempat bertemu rombongan ojek online. Oleh pengemudi ojek online, FNH, lanjut Hendro, diminta kembali ke kawasan Jalan Tamansiswa. Tujuannya untuk mengambil pedang yang tertinggal.
Ternyata ini sebagai pancingan untuk menangkap pelaku. Terbukti setibanya di lokasi, FNH tidak menemukan pengemudi ojek online yang dicari. Alhasil FNH meminta FN untuk memacu kendaraan menuju jalan Sultan Agung.

“Sampai di jalan Sultan Agung, ada yang mengenali wajah pelaku. Ternyata oleh saksi, ciri khas pelaku sempat dishare. Lalu ditangkap ojek online dan warga. Setelahnya diserahkan ke Polsek Pakualaman,” katanya.

Hendro turut mengapresiasi aksi para pengemudi ojek online dan warga. Berupa penangkapan FNH tanpa disertai dengan kekerasan. Selain itu juga berinisiatif untuk menyerahkan kepada jajaran Polsek Pakualaman.

“Ojek online dan warga masyarakat sudah membantu kambtibnas secara baik. Ini kami apresiasi dan terimakasih karena dengan sadar turut membantu kepolisian. Bahkan tak ada main hakim sendiri,” ujarnya. (Dwi)

Hukum Kriminal