RADAR JOGJA – Lembaga Permasyarakatan (Lapas) Narkotika Kelas IIA Jogjakarta memindahkan 23 warga binaannya ke Nusakambangan. Kebijakan ini terfokus pada warga binaan yang tergolong maximum security. Baik terkait ancaman terhadap kehidupan lapas maupun vonis pidana.

Kepala Lapas Narkotika Kelas IIA Jogjakarta Yohanes Waskito menuturkan pemindahan telah rampung sepenuhnya. Pertimbangan pemilihan Nusakambangan karena lapas di kawasan Cilacap Jawa Tengah tersebut dianggap memenuhi syarat maximum security.

“Pemindahan ke 23 napi disamping untuk ciptakan lapas Narkotika yang lebih kondusif juga atas pertimbangan maximum security. Ada harapan bisa mengurangi beban petugas juga,” jelasnya ditemui di Kantor Lapas Narkotika Kelas IIA Jogjakarta, Sabtu (4/7).

Pemindahan berlangsung 30 Juni. Vonis hukuman setiap warga binaan beragam. Dala satunya ada yang menjalani hukuman kurung penjara 29 tahun.

Kebijakan pemindahan warga binaan sendiri mengacu pada Permenkumham Nomor 35 Tahun 2018. Regulasi ini mengatur tentang Revitalisasi Penyelenggaraan Kemasyarakatan oleh Kemenkumham. 

Waskito tak menampik pemindahan terkait kondusifitas lapas. Termasuk menutup celah peredaran narkotika dari dalam lapas. Khususnya oleh warga binaan dengan resiko tinggi.

“Ada suatu penilaian terkait resiko kelakukan narapidana. Punya potensi resiko tinggi mengendalikan narkoba dari dalam lapas, itu kita ambil untuk bersihkan. Lalu jangan sampai menularkan kepada narapidana yang berupaya menjadi orang baik,” katanya.

Selain pengiriman ke Nusakambangan adapula penitipan warga binaan. Diantaranya ke Polsek dan Polres Sleman. Penitipan ini dikhususkan kepada narapidana yang masih menjalani pemeriksaan dan persidangan.

“Jumlah total warga binaan di kami ada 314 orang, tapi yang menghuni lapas hanya 295 orang. Sisanya atau 19 orang dititipkan di Polres Sleman. Mereka A3 atau proses persidangan,” ujarnya. (dwi/tif)

Hukum Kriminal