RADAR JOGJA – Seorang mahasiswa di salah satu Perguruan Tinggi Swasta (PTS) Jogjakarta berinisial HN ditangkap dan mendekam di ruang tahanan Polsek Mlati setelah menganiaya mantan pacarnya. Warga Dusun Sokowaten, Desa Plumbon, Kecamatan Banguntapan, Bantul ini menembak korban dengan pistol air gun sebanyak tiga kali pada Senin siang (22/6). Korban yang berusia 18 tahun itu merupakan warga Dusun Blunyahgede, Sinduadi, Kecamatan Mlati.

Kapolsek Mlati Kompol Hariyanto menjelaskan, pelaku tega melakukannya karena cemburu setelah melihat mantan pacarnya tersebut berboncengan dengan gebetan barunya.

“Peristiwa bermula saat pelaku HN melihat korban berboncengan sepeda motor dengan laki-laki lain. Saat itu korban melintas di kawasan Dusun Blunyah Gede, Desa Sinduadi, Kecamatan Mlati, Kabupaten Sleman. Pelaku langsung mendekati korban dan mengeluarkan pistol dari tas slempang yang dikenakan. Sadar merasa jiwanya terancam, korban lantas melarikan diri ke arah barat,” paparnya, Kamis (25/6). 

Hariyanto melanjutkan, pelaku langsung mengejar korban dengan kecepatan tinggi. Ternyata aksi pelaku, diketahui oleh saksi warga Dusun Bluyahgede bernama Mardoyo, 49.

“Dengan jarak sekitar tujuh meter, tanpa banyak berkata-kata, pelaku langsung menembakan pistol ke arah korban sebanyak tiga kali,” lanjutnya. 

Sempat terjadi aksi kejar-kejaran dan di Jalan Monjali pelaku kembali menembakan pistol ke arah korban. Beruntungnya, tembakan pelaku hanya mengenai bodi kendaraan. Pelaku mengetahui kalau dia dibuntuti oleh warga, justru memacu kendaraannya dengan kecepatan tinggi.

Saksi Mardoyo yang seorang anggota TNI itu sempat mendekat ke pelaku. Saat itu juga HN lantas menendang punggung korban. Kemudian korban terjatuh dan langsung diselamatkan saksi dengan dibantu oleh warga sekitar. 

“Saat menangkap pelaku, kami juga turut mengamankan barang bukti, pistol dan gotri sebagai amunisinya,” kata Kompol Hariyanto. 

Kanit Reskrim Polsek Mlati Iptu Dwi Noor Cahyanyo menambahkan, pelaku mengaku mendapatkan pistol itu dengan cara membeli secara online seharga Rp 1,5 juta.

“Pelaku memiliki senjata itu baru 2 minggu sebelum kejadian, dia membeli secara online. Motif pelaku hanya karena cemburu,” ucap Iptu Dwi. 

Atas perbuatannya HN juga dijerat pasal 1 ayat (1) No 12 tahun 1951 tentang UU Darurat memiliki senjata api tanpa dilengkapi izin. Pelaku terancam hukuman seumur hidup atau penjara setingi-tingginya 20 tahun kurungan. (sky/tif)

Hukum Kriminal