RADAR JOGJA – Jajaran Direktorat Reserse Narkoba (Ditresnarkoba) Polda DIJ terus berburu peredaran dan penyalahgunaan narkotika di wilayah Jogjakarta.

Berdasarkan pemantauan ada lima jenis narkotika favorit di kota pelajar ini. Mulai ganja, sabu, tembakau gorila, alprazolam dan riklona serta trihexyphenidyl.

Dirresnarkoba Polda DIJ Kombespol Ary Satriawan kelima jenis narkotika kerap menjadi buruan para pemadat di Jogjakarta. Selama rentang waktu 2020, terbanyak barang bukti yang disita adalah tembakau gorila mencapai 9,4 kilogram.

“Dari Januari sampai 18 Juni, jajaran Ditresnarkoba Polda dan Polres wilayah melakukan pengungkapan beragam kasus. Untuk ganja sebanyak 845,17 gram, sabu 1.309,78 gram, alprazolam dan riklona sebanyak 2631 butir dan trihexyphenidyl sebanyak 79.100 butir,” jelasnya ditemui di gedung Ditresnarkoba Polda DIJ, Senin (22/6).

Media sosial (medsos) menjadi modal utama dalam menjalankan transaksi. Beragam aplikasi terinstal di gawai milik pengedar dan para bandar. Apabila satu aplikasi terdeteksi langsung bergeser ke aplikasi lainnya. Pergerakan ini terus terulang untuk menghilangkan jejak.

Canggihnya, mereka melakukan evaluasi metode penjualan. Langkah ini dilakukan agar proses transaksi tak terdeteksi oleh kepolisian. Apabila ada satu terungkap, maka gerombolan pengedar langsung berganti metode baru.

“Selama Januari sampai dengan Juni ini rata-rata mereka menggunakan media sosial. Kalau ada yang tertangkap, langsung mengganti metode yang digunakan. Aplikasinya mulai dari WhatsApp, Telegram, Instagram dan beragam aplikasi lain,” katanya.

Selama rentang waktu Juni, Polda DIJ juga berhasil ungkap empat kasus. Berawal dari penangkapan tersangka RA, 25. Dia berperan sebagai penaruh alamat. Barang buktinya adalah sabu seberat 22,5 gram yang terbagi dalam 14 paket.
Dia ditangkap saat akan mengambil barang di kawasan Sinduadi,Mlati, Sleman. Barang bukti berupa sabu itu lalu diminta untuk dibawa ke daerah Magelang. Untuk sekali transaksi, RA mendapatkan upah Rp 500 ribu dan sabu seberat 1 gram.
“Saat menangkap RA, ada BP, 25, disitu. Kemudian diperiksa dan ditemukan tembakau gorila seberat 121,64 gram dan 2300 butir trihexyphenidyl. Kedua barang ini didapat tersangka BP melalui pembelian online,” ujarnya.

Proses penyelidikan lain, Ditresnarkoba Polda DIJ berhasil mengamankan dua tersangka berbeda kasus, LW, 25 dan KD, 20. Keduanya diketahui sebagai pemesan dan penjual tembakau gorila. Tak tanggung-tanggung, sekali pesan bisa mencapai satu kilogram.

Walau barang bukti cenderung besar, tapi keduanya termasuk sebagai bandar kecil. Pihaknya masih melacak bandar besar yang memasok tembakau gorila kepada kedua tersangka. Dari transaksi ini, kedua tersangka memesan satu kilogram dan baru dikirim 500 gram.

“Mereka ini pesannya melalui Instagram seharga Rp 30 juta. Keduanya ini bekerja sama tapi peran KD sebagai peluncur (penaruh barang) sementara LW yang kendalikan transaksi. KD dapat upah antara Rp 50 ribu sampai Rp 70 ribu setiap kali transaksi,” katanya.

Jadi sistemnya memang penjualan terputus. “Tidak tahu belinya sama siapa, cuma tahu melalui Instagram. Jadi enggak tahu siapa yang jual. Tapi sistem ini selektif, tidak asal transaksi,” ujarnya.

Tersangka RA dijerat dengan pasal 112 ayat (2) subsider pasal 127 ayat (1) UU Nomor 35/2009 tentang Narkotika. Tersangka BP dijerat UU Tentang Kesehatan. Dua tersangka KD dan LW dijerat dengan pasal 114 ayat (2) subsider 112 ayat (2) UU Nomor 35/2009. (dwi/ila)

Hukum Kriminal