RADAR JOGJA – Seorang penjaga kos eksklusif di RT 07/12 Seturan, Caturtunggal, Depok, Sleman memerkosa seorang gadis asal berusia 22 tahun di salah satu kamar kos. Pelaku merupakan rekan ibu korban yang juga bekerja di kos yang sama sebagai cleaning service.

Kanit Reskrim, Polsek Depok Barat Iptu Isnaini menjelaskan, pelaku pemerkosaan berinisial JS (25), warga Lampung Selatan. Sedangkan korban VH (22), warga Kecamatan Samigaluh, Kulonprogo. Kasus ini bermula saat korban dihubungi JS melalui aplikasi WhatsApp untuk datang ke lokasi kejadian.

Korban diminta mengantar JS ke rumah neneknya yang beralamat di Babarsari. Sekira pukul 14.30 WIB, korban sampai di lokasi kejadian dan oleh pelaku disuruh masuk ke dalam kamar jaga pelaku. Di dalam kamar, pelaku dan korban sempat ngobrol-ngobrol beberapa saat. Usai mengobrol pelaku kemudian menutup pintu kamar. Selanjutnya, pelaku memerkosa dengan mendekap serta menindih korban di lantai kamar.

“Korban sempat berupaya memberontak namun tidak bisa.  Setelah kejadian, korban sempat menangis dan pelaku berupaya menghibur serta berucap akan bertanggung jawab,” beber Isnaini.

Saat pelaku lengah, lanjut Isnaini, korban melarikan diri dan langsung melaporkan ke Polsek Depok Barat. Petugas yang mendapati adanya laporan langsung melakukan penyelidikan.

“Pelaku berhasil kami tangkap sekitar pukul 19.30 di lokasi kejadian. Selanjutnya, kasus ini kemudian dilimpahkan ke Unit PPA Polres Sleman berikut pelaku,” ujar Iptu Isnaini.

Penanggung jawab kos Riandhika mengakui pelaku merupakan karyawan kontrak dan belum selesai menjalani kontrak pertama. Kejadian tersebut terjadi sore hari saat kondisi kos sedang sepi. Pelaku berasal dari Lampung Selatan, tetapi keluarganya berdomisili di Babarsari.

“Modusnya minta tolong korban untuk mengantarkan ke rumah keluarga korban di daerah Babarsari. Ketika korban datang, pelaku melakukan hal tersebut. Kejadian tidak berlangsung lama, kemudian korban keluar ketika pelaku lengah dan melaporkan di Polsek Depok Barat,” tuturnya, Kamis (28/5).

Riandhika menegaskan, perusahaannya tidak melindungi karyawan yang melakukan tindak pidana pada saat jam kerja maupun diluar jam kerja. Laporan kepolisian dibuat oleh korban sendiri dan tidak ada bantuan hukum dari perusahaan karena yang bersangkutan telah dianggap merugikan perusahaan.

“Dalam hal ini menyangkut kredibilitas perusahaan kami. Kami membantu proses penyidikan dari Polres Sleman dengan menyiapkan rekaman CCTV pada saat kejadian. Rekaman CCTV hanya memuat pada saat korban datang karena di dalam ruangan kejadian tidak dipasang CCTV,” tandasnya. (sky/tif)

Hukum Kriminal