RADAR JOGJA – Kebebasan Untung Supriyadi alias Poleng harus berakhir di Jogjakarta. Pasca bebas dari Lembaga Pemasyarakatan Solo 4 April, pria ini kembali beraksi sehari setelahnya, 5 April. Kala itu pria berusia 58 tahun ini menggasak tiga kendaraan roda dua di Kecamatan Kraton, Gondomanan dan Umbulharjo.

Berawal dari penyidikan terungkap pula kasus lama lainnya. Ternyata pria asal Purworejo ini pernah beraksi di Kecamatan Tegalrejo. Sasarannya adalah pickup Kijang tahun 1981. Kendaraan ini sehari-harinya berfungsi sebagai pengangkut kijing atau batu nisan.

“Jadi tersangka ini ditangkap di wilayah Polsek Gondomanan 16 April lalu. Dalam pengembangan ternyata ada kasus juga di wilayah kami. Mencuri kendaraan Kijang pengangkut kijing atau nisan tanggal 23 Agustus 2019,” jelas Kapolsek Tegalrejo Kompol Eko Basunando ditemui di Mapolsek Tegalrejo, Kamis (14/5).

Kasus lawas ini berhasil terungkap dari penyidikan mendalam. Poleng akhirnya mengakui pernah beraksi di wilayah hukum Polsek Tegalrejo. Sementara untuk menghilangkan jejak, barang bukti dijual ke kawasan Karanganyar, Jawa Tengah.

Kala itu, Kijang 1981 dijual seharga Rp 4 juta kepada seseorang bernama Wardi Bagong. Kondisinya hanya dengan kelengkapan surat tanda nomor kendaraan (STNK). Modus pencurian memanfaatkan kunci palsu untuk menyalakan mesin.

“Melakukan penyelidikan ke wilayah Polres Sukoharjo, ternyata benar saudara Wardi Bagong membeli mobil tersebut. Mobil kami ambil sebagai barang bukti sebagai berkas perkara,” katanya.

Terkait keberadaan nisan, ternyata tanpa sepengetahuan Poleng. Nisan atas nama Sulastri itu ternyata ikut terbawa olehnya. Alhasil pria sepuh ini menjual Kijang 1981 sepaket dengan batu nisan.

Perwira menengah satu melati ini memastikan nisan tetap jadi bagian dari barang bukti. Berdasarkan keterangan saksi, nisan merupakan pesanan. Rencananya akan diantar sebelum akhirnya Kijang 1981 raib dibawa Poleng.

“Dicurinya kan malam, nah paginya itu si pemilik mau antar kijing. Ternyata mobilnya malah sudah enggak ada,” ujarnya.

Bebasnya Poleng merupakan bagian dari program asimilasi. Harusnya pria ini bebas Agustus. Bukannya kapok malah kembali beraksi. Diantaranya pencurian kendaraan roda dua di Gondomanan. Pencurian roda empat di Gedongtengen dan pencurian roda dua di Pakualaman.

Atas aksinya, napi asimilasi ini dijerat dengan Pasal 363 KUHP. Ancaman hukuman berupa kurungan penjara maksimal 7 tahun. Untuk saat ini penyidikan berlangsung berantai di sejumlah Polsek wilayah Polresta Jogja.

“Mencuri untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Untuk beli obat asma karena ada sakit itu,” curhat Poleng.

Kasubag Humas Polresta Jogja AKP Sartono menuturkan kasus napi asimilasi bukanlah pertama kalinya. Setidaknya ada empat kasus napi asimilasi berulah di wilayah hukum Polresta Jogja. Selain Polsek Gondomanan adapula di Polsek Tegalrejo, Polsek Wirobrajan dan Polsek Umbulharjo.

“Total sudah ada empat napi asimilasi yang berulah setelah bebas. Gondomanan, Tegalrejo, Wirobrajan kasusnya curanmor. Kalau di Umbulharjo itu dua orang kasusnya membawa senjata tajam. Semua kami sanksi sesuai jenis kejahatannya,” tegasnya. (dwi/tif)

Hukum Kriminal