RADAR JOGJA – Program asimilasi narapidana selama pandemi Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) menjadi dilema tersendiri. Termasuk di kalangan penegak hukum. Walau atas dasar kemanusiaan, belum ada jaminan para narapidana tidak bertindak kriminal lagi.

Kabid Humas Polda DIJ Kombespol Yuliyanto mengakui tak ada pengawasan kepada narapidana asimilasi. Termasuk wajib lapor setelah dibebaskan dari penjara. Polisi juga tak bisa mengawasi satu persatu napi yang sudah menghirup udara bebas.

“Napi asimilasi tidak ada wajib lapor, tidak ada tanggungjawab wajib lapor ke polisi. Imbauan, ya mereka harus memperbaiki diri. Lalu masyarakat ikut mengawasi dan laporkan apabila ada aksi kriminalitas,” jelasnya, Selasa (21/4).

Terkait data, Polda DIJ, lanjutnya, tak memiliki secara detil. Hanya saja ada sekitar 400 narapidana asimilasi di wilayah Jogjakarta. Seluruhnya telah menjalani masa tahanan di berbagai lembaga permasyarakatan di Jogjakarta.

Walau begitu Kapolres Sleman medio 2016 ini menegaskan ada sanksi tegas. Terlebih jika mantan narapidana tersebut bertindak kriminal. Sanksinya sesuai dengan pasal pelanggaran yang dilakukan.

“Entah pulang kemana kan engga tahu, yang dilepas belum tentu napi Jogja. Seperti yang kasus Gondomanan itu dari lapas Solo, asalnya dari Purworejo tapi aksi kejahatan di Jogja. Sanksi tetap tegas lah sesuai aksi kejahatannya,” katanya.

Kasus narapidana asimilasi kumat terjadi di Gondomanan Kota Jogja. Adalah seorang pria berinisial US alias Oleng. Pria berusia 58 tahun ini dibekuk setelah menggasak tiga unit kendaraan bermotor roda dua.

Oleng awalnya dijerat hukuman 10 bulan di Lapas Solo. Berkat program asimilasi, napi ini bebas sebelum waktunya. Masa tahanan pria asal Purworejo Jawa Tengah ini hanya menjalani enam bulan masa tahanan.

“Oleng bebas berkat program asimilasi pada 4 April lalu. Selang sehari bebas malah kumat lagi. Setelah bebas dia naik bus dari Solo ke Jogjakarta,” jelas Kapolsek Gondomanan Kompol Purwanto.

Catatan polisi menyebutkan aksi kejahatan berlangsung Minggu dini hari (5/4). 

Sasarannya adalah kendaraan bermotor roda dua. Pelaku, lanjutnya, merupakan spesialis aksi kriminalitas malam dan dini hari.

Dalam aksinya, Oleng cuma bermodalkan sebuah anak kunci saja. Sasaran pertama di daerah Kauman, Ngupasan Gondomanan. Satu unit Yamaha Jupiter berhasil dia bawa kabur. Berlanjut Honda Legenda di Kecamatan Kraton dan Suzuki Smash di Umbulharjo. 

 “Dua kendaraan terakhir digondol di hari yang sama, Selasa pekan lalu (7/4). Semua aksi ini dilakukan oleh Oleng sendirian. Lalu 16 April kemarin berhasil kami amankan di jalan KH. Ahmad Dahlan,” katanya.

Untuk menghilangkan jejak, seluruh kendaraan dijual di Solo Jawa Tengah. Hasil dari penjualan digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Atas aksinya, Oleng dijerat dengan Pasal 363 KUHP. Sanksi hukuman adalah penjara sembilan tahun.

“Bukan tidak mungkin hukumannya lebih berat dari yang sebelumnya mengingat maksimal hukuman mencapai 9 tahun pada pasal tersebut. Statusnya residivis lalu dapat program asimilasi malah dimanfaatkan untuk bertindak kriminal lagi,” tegasnya. (dwi/tif)

Hukum Kriminal