RADAR JOGJA – Terjun di bidang peternakan itik rupanya berpeluang besar. Jika diseriusi, hasilnya akan menguntungkan. Apalagi mampu mengelola seluruh elemennya. Mulai pemanfaatan limbah, penetasan, mengolah makanan dan telur. Itulah yang dilakukan Suhartatik dan Paulis Karyadi, kelompok peternak Unggul Mulyo Padukuhan Bondalem, Sumbermulyo, Bambanglipuro, Bantul.

Bermula dari hobi memelihara unggas, sepasang suami istri Paulis Karyadi dan Suhartatik kini sukses beternak itik turi. Setiap hari Rp 200 ribu mereka kantongi dari penjualan telur. Belum lagi penjualan anak itik, penjualan olahan makanan daging itik, dan penjualan kotoran itik. Tentunya menjanjikan

”Asalkan telaten, tekun, sabar, inovatif, cermat, pasti menguntungkan,” ungkap perempuan yang kerap disapa Tatik saat ditemui Radar Jogja Senin (15/12).
Dikatakan, telaten dalam memelihara itik, memberikan makan, minum, dan membersihkan kandang tepat waktunya. Tekun, menggelutinya dengan senang, sepenuh hati dan harus fokus. Sabar ketika gagal dalam penetasan. Dan, inovasi membuat peluang-peluang baru.
Selain itu tidak sekadar beternak, tetapi harus mengelola keseluruhan. Cermat dalam perhitungannya. Memahami pangsa pasar dan sasaran penjualan. “Nah itu kuncinya,” ungkap Tatik .
Dia dan suami mulai memelihara itik sekitar tahun 2006. Karena hampir setiap hari itik turi bertelur, kemudian sebagian telur-telurnya dia jual. Mendapat respons bagus di pasaran, mereka mengajak warga sekitar membentuk kelompok peternak itik.
Pada 2014 tercetuslah kelompok dengan nama Unggul Mulyo yang hingga 2019 ini berjumlah 23 anggota. Dari kelompok itulah hasil ternaknya semakin berkembang. Apalagi salah seorang personel bernama Sigit, 35, berhasil membuat mesin penetasan itik. Dari total telur yang dihasilkan, 80 persen berhasil menetas.
“Telur yang gagal dalam penetasan diolah menjadi pakan lele. Telur dibakar dan dihaluskan,” katanya. Menurutnya, kandungan proteinnya lebih tinggi dibandingkan pakan pelet.
Anak itik yang menetas, tiga hari bisa langsung dijual. Lalu jika kotoran mulai menumpuk, dijual untuk pupuk. Dalam kandang yang bermuatan 400 ekor itik dia mendapatkan hasil Rp 400 ribu. “Kalau telurnya, setiap hari panen. Sekitar 200 butir dibuat telur asin dan dijual langsung ke pasar,” ungkapnya.
Tak mau menyia-nyiakan kesempatan, Tatik juga mengolah daging itik yang dipelihara khusus itik pedaging. Dia membuat rica-rica itik. ”Hasilnya rumayanlah jika dibandingkan saat masih bekerja menjadi karyawan,” tambah Karyadi. (laz)

Boks