DESA Siaga Sehat Jiwa Butuh Perhatian Serius Kesehatan jiwa harus menjadi perhatian seluruh elemen bangsa. Sebab, kesehatan jiwa menjadi persoalan dari yang harus ditangani banyak pihak. Karena itu kesehatan jiwa membutuhkan perhatian serius dari setiap penyelenggara pemerintahan di semua tingkatan.”Harus menjadi perhatian pemerintah dari tingkat kabupaten, provinsi, sampai dengan pusat,” ungkap Kepala Bidang Keperawatan RS Grhasia Jogjakarta Amin Subargus SKm MKes di sela mendampingi Komisi D DPRD DIJ melakukan kunjungan kerja monitoring Desa Siaga Sehat Jiwa (DSSJ) di Puskesmas Galur II, Kulonprogo, belum lama ini.Amin menjelaskan, Puskesmas Galur II merupakan puskesmas yang memberikan layanan rawat jalan dan rawat inap dengan kapasitas 14 tempat tidur. Sejak 2014, puskesmas tersebut berstatus badan layanan umum daerah (BLUD) persiapan karena sedang dalam tahapan akreditasi.Selama ini Puskesmas Galur II menjadi satu-satunya puskesmas yang mengampu program DSSJ di Kulonprogo. “Embrio sebagai pengampu DSSJ diawali pascagempa 2006 yang mengakibatkan banyak penduduk memiliki gangguan jiwa,” ungkap Amin didampingi dr Heni Suryadi dari Puskesmas Galur II.Dikatakan, RS Grhasia berinisiasi melakukan berbagai pertemuan, konsolidasi, koordinasi, dan pendidikan latihan serta pengetahuan pada 2006 dan 2007.Terkait itu, Desa Banaran, Galur, dipilih sebagai DSSJ 2009 dengan pertimbangan banyaknya ditemukan kasus gangguan jiwa di desa tersebut. Selain itu juga ada kesiapan tenaga sukarelawan dan kerja sama dcngan tokoh masyarakat maupun pemerintah yang cukup baik.Kegiatan instansinya, sambung Amin, pada 2006-2012 berupa sosialisasi, advokasi, deteksi dini status kesehatan, penyuluhan, supervisi, rujukan ,dan evaluasi.”Pada 21 November 2013 DSSJ dari RS Grhasia kepada Puskesmas Galur II untuk pengelolaan dan pembinaan selanjutnya,” terangnya.Selama peluncuran program DSSJ ada beberapa kendala yang ditemui. Di antaranya keterbatasan waktu, dan dana hingga perawat yang tak fokus karena berbagi dengan program lain yang diampu. Demikian juga kader yang menangani tidak konsentrasi 100 persen penuh. “Kader nyambi tugas lain seperti posyandu atau lansia,” imbuh dr Heni.Ketua Komisi D DPRD DIJ Yose Rizal me rekomen-dasi kan Puskesmas Galur II agar menyusun laporan yang komprehensif dilengkapi data muntahir sebagai bahan laporan kepada bupati Kulonprogo. Yose juga meminta agar RS Grhasia menyebarluaskan percontohan DSSJ agar seluruh puskesmas dan desa dapat mengadopsi model Puskesmas Galur II dan Desa Banaran sebagai langkah awal mendeteksi dini terhadap gangguan jiwa.Komisi yang membidangi masalah kesejahteraan rakyat ini berencana memanggil SKPD mitra kerjanya yang memungkinkan memberikan pendidikan dan latihan kepada warga atau pasien yang sudah sembuh maupun anggotanya sehingga dapat mengisi waktu dengan hal positif dan produktif secara ekonomi. “Itu beberapa catatan dan rekomendasi kami,” ucapnya. (kus/amd/ong)

Kiprah Nyata