Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Jangan Dianggap Remeh! Yuk Kenali Tuberkulosis dan Gejala yang Perlu Diwaspadai

Bahana. • Rabu, 25 Maret 2026 | 14:19 WIB

Ilustrasi pemeriksaan rontgen (Pinterest).
Ilustrasi pemeriksaan rontgen (Pinterest).

Tuberkulosis atau biasa disebut TB masih menjadi masalah kesehatan serius di Indonesia.

Penyakit menular ini tidak hilang meskipun sudah ada pengobatan, dan hingga tahun 2024 tingkat kasusnya masih tinggi.

Dilansir dari data Kementerian Kesehatan RI, sebanyak 856.420 kasus tuberkulosis ditemukan di Indonesia pada 2024, mencakup seluruh kelompok usia, dari anak hingga lansia.

Kasus ini meningkat sekitar 4 % dari tahun sebelumnya, dan sebagian besar dilaporkan di provinsi berpenduduk besar seperti Jawa Barat, Jawa Timur, dan Jawa Tengah.

TB disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis, yang paling sering menyerang paru-paru.

Penyakit ini mudah menular dari orang ke orang melalui udara ketika seseorang yang menderita TB aktif batuk, bersin, tertawa, atau berbicara.

Karena itu, TB termasuk penyakit dengan penularan yang tinggi, terutama di tempat tertutup dengan ventilasi buruk.

Dilansir dari World Health Organization (WHO), Indonesia adalah salah satu negara dengan beban TB tertinggi di dunia.

Pada 2023 WHO memperkirakan sekitar 1,09 juta kasus TB di Indonesia, setara dengan 387 kasus per 100.000 penduduk.

Angka kematian akibat TB juga tinggi, dengan lebih dari 130.000 orang meninggal pada 2023.

Situasi ini menunjukkan bahwa meskipun sudah ada program pengendalian, tantangan deteksi dan penanganan TB masih besar.

Gejala tuberkulosis sering kali berkembang secara bertahap dan bisa mirip dengan penyakit lain sehingga banyak kasus terlambat terdiagnosis.

Gejala umum TB paru-paru termasuk batuk berkepanjangan lebih dari dua minggu, batuk berdahak atau berdarah, nyeri dada, demam ringan yang berkepanjangan, keringat malam, kelelahan, dan penurunan berat badan.

Karena gejala awalnya bisa ringan, banyak orang mengabaikannya sebagai flu biasa sehingga diagnosis TB sering terlambat.

Selain gejala pada paru, TB juga bisa menyerang organ lain seperti kelenjar getah bening, tulang, atau otak, meskipun ini lebih jarang terjadi.

TB yang menyerang organ lain biasanya menunjukkan gejala yang berbeda sesuai organ yang terinfeksi, misalnya nyeri tulang atau pembengkakan kelenjar.

Karena itu, pemeriksaan ke fasilitas kesehatan penting bila gejala tidak membaik setelah beberapa minggu.

Faktor risiko TB mencakup sistem kekebalan tubuh yang lemah, seperti pada penderita HIV, diabetes, atau malnutrisi, serta kondisi lingkungan yang padat.

Perokok juga memiliki risiko lebih tinggi mengalami TB karena fungsi paru yang terganggu. WHO juga menyoroti pentingnya deteksi dini dan perawatan lengkap untuk mencegah penularan lanjutan.

Pengobatan tuberkulosis memerlukan kombinasi beberapa obat antibiotik yang harus diminum secara teratur selama minimal enam bulan.

Pemberian obat yang tuntas dan diawasi penting untuk mencegah terjadinya TB yang kebal obat (drug-resistant TB).

Selain itu, penderita TB aktif yang menunda pemeriksaan berisiko menyebarkan bakteri ke banyak orang lainnya.

Pengenalan gejala, deteksi dini, dan pengobatan yang tepat adalah kunci untuk mengendalikan tuberkulosis.

Masyarakat diimbau untuk segera memeriksakan diri bila mengalami batuk berkepanjangan atau gejala khas TB lainnya.

Dengan upaya bersama antara pemerintah, tenaga kesehatan, dan masyarakat, penanggulangan TB dapat dilakukan lebih efektif untuk menurunkan angka penularan dan kematian akibat penyakit ini.

Penulis: Ferry Aditya

Editor : Bahana.
#tuberkulosis #tbc