RADAR JOGJA - Siapa sangka rutinitas ngopi pagi bisa jadi "obat" pencegah pikun di masa tua?
Sebuah penelitian berskala besar yang dipublikasikan di jurnal ternama JAMA pada 9 Februari 2026 mengungkap fakta mengejutkan: minum kopi berkafein 2-3 gelas per hari dikaitkan dengan penurunan risiko demensia hingga 22% dibandingkan orang yang jarang atau tidak minum kopi sama sekali.
Penelitian yang dipimpin Yu Zhang dari Harvard T.H. Chan School of Public Health ini melibatkan lebih dari 131.821 partisipan (dari Nurses’ Health Study dan Health Professionals Follow-up Study) yang dipantau selama hampir 43 tahun.
Total ada 11.033 kasus demensia yang tercatat selama periode tersebut.
Hasil utama studi: Konsumsi kopi berkafein moderat (sekitar 2-3 cangkir/hari atau ±300 mg kafein) menunjukkan hubungan terkuat dengan perlindungan otak.
Risiko demensia turun signifikan (hazard ratio 0,82 atau sekitar 18-22% lebih rendah dibanding non-peminum).
Penurunan kemampuan kognitif subjektif (merasa sering lupa) juga lebih rendah sekitar 15%.
Manfaat serupa terlihat pada minum teh berkafein 1-2 gelas per hari.
Kopi tanpa kafein (decaf) tidak menunjukkan efek perlindungan yang sama terhadap risiko demensia maupun fungsi kognitif.
dr. Adam Prabata, dokter umum yang aktif mengedukasi kesehatan melalui platform X (@AdamPrabata), langsung membagikan temuan ini kepada masyarakat Indonesia dengan bahasa yang mudah dipahami.
“Gua baru tahu minum kopi bisa juga bermanfaat untuk mencegah pikun setelah baca jurnal ini,” tulisnya dalam utas yang sudah mendapat ratusan like dan repost dalam waktu singkat.
Menurut analisis nonlinear dalam studi, efek neuroprotektif kafein paling optimal pada dosis sedang.
Melebihi itu manfaatnya tidak bertambah signifikan, bahkan berpotensi plateau.
Kafein diyakini berperan mendukung plastisitas otak dan memberikan efek antioksidan serta anti-inflamasi yang melindungi sel saraf jangka panjang.
Kopi tanpa gula lebih dianjurkan? Beberapa netizen di kolom balasan utas dr. Adam bertanya soal gula dan puasa.
Secara umum, penelitian ini fokus pada kafein itu sendiri, bukan tambahan gula atau susu.
Namun dokter menyarankan konsumsi kopi hitam atau dengan sedikit gula agar kalori tetap terkendali, terutama bagi yang punya risiko diabetes—kondisi yang juga berkaitan dengan demensia.
Apa kata ahli Indonesia? Meski studi dilakukan pada populasi Barat, pola konsumsi kafein di Indonesia yang tinggi (kopi tubruk, kopi susu, hingga specialty coffee) membuat temuan ini sangat relevan.
“Ini bisa jadi strategi preventif sederhana dan murah untuk menjaga kesehatan otak di tengah tren penuaan penduduk Indonesia,” ujar dr. Adam dalam utasnya.
Studi ini bersifat observasional, artinya menunjukkan hubungan (association), bukan bukti sebab-akibat langsung.
Faktor gaya hidup lain seperti olahraga, tidur, dan pola makan tetap sangat berpengaruh.
Konsultasikan dengan dokter jika Anda punya kondisi khusus seperti jantung, maag, atau sedang hamil sebelum menambah asupan kafein.
Jadi, bagi pencinta kopi di Tanah Air—tetap nikmati 2-3 gelas sehari dengan bijak.
Siapa tahu secangkir kopi pagi bukan hanya membangunkan badan, tapi juga menjaga otak tetap tajam hingga usia senja. (iwa)
Sumber: Zhang Y, et al. Coffee and Tea Intake, Dementia Risk, and Cognitive Function. JAMA. Published online February 9, 2026. doi:10.1001/jama.2025.27259
Utas X dr. Adam Prabata (@AdamPrabata), 10 Februari 2026
Editor : Iwa Ikhwanudin