JOGJA - Rumah Sakit Khusus Ibu dan Anak (RSKIA) Sadewa resmi bertransformasi menjadi Rumah Sakit Umum (RSU) Sadewa, bertepatan dengan peringatan hari ulang tahun ke-21 rumah sakit tersebut, Sabtu (7/2/2026).
Momentum perubahan status ini ditandai dengan rangkaian kegiatan seminar ilmiah dan seremonial yang digelar di Hotel Merapi Merbabu, Sleman.
Direktur Utama RS Sadewa, dr. Joko Hastaryo, M.Kes mengatakan, bahwa transformasi ini merupakan bagian dari kebijakan nasional Kementerian Kesehatan yang menghapus nomenklatur rumah sakit khusus dan menggantinya dengan Rumah Sakit Berbasis Kompetensi.
"Hari ini pas ulang tahun kami yang ke-21, sekaligus kami informasikan kepada publik bahwa RSKIA Sadewa sudah resmi bertransformasi menjadi Rumah Sakit Umum berbasis kompetensi," ujar dr. Joko Hastaryo, M.Kes.
Ia menjelaskan, terdapat dua syarat mutlak untuk menjadi rumah sakit umum, yakni kepemilikan minimal 50 tempat tidur serta memiliki sedikitnya dua area kompetensi dari 24 kompetensi yang ditetapkan Kemenkes.
"Alhamdulillah, bed kami sekarang sudah 68. Dari sisi kompetensi, minimal hanya dua, tapi RS Sadewa sudah memiliki 10 area kompetensi. Jadi secara syarat kami sudah terpenuhi semuanya," katanya.
Transformasi ini juga dirangkaikan dengan penyerahan simbolis izin operasional rumah sakit umum dari Pemerintah Kabupaten Sleman kepada manajemen RS Sadewa.
Menurut dr. Joko Hastaryo,M.Kes, rangkaian peringatan HUT ke-21 RS Sadewa telah berlangsung sejak akhir Januari dan masih berlanjut hingga pekan depan. Khusus pada puncak acara hari ini, RS Sadewa menggelar senam masal bersama warga sekitar yang diikuti sekitar 200 peserta, dilanjutkan seminar ilmiah yang dihadiri kepala puskesmas dari Sleman, Kota Jogja, Bantul, dan Gunungkidul, serta dokter, perawat, hingga bidan.
"Peserta seminar cukup variatif, mulai dari kepala puskesmas, dokter praktik mandiri, perawat, sampai bidan. Ini bagian dari komitmen kami untuk terus meningkatkan kualitas layanan kesehatan," jelasnya.
dr. Joko Hastaryo, M.Kes menuturkan, perubahan status ini sejatinya bukan inisiatif internal rumah sakit, melainkan bentuk kepatuhan terhadap regulasi terbaru dari Kementerian Kesehatan.
"Awalnya kami sudah cukup nyaman sebagai rumah sakit khusus ibu dan anak. Tapi karena aturan pemerintah mengharuskan semua rumah sakit menjadi rumah sakit umum berbasis kompetensi, ya kami ikut. Prinsip kami adalah taat aturan," tegasnya.
Meski demikian, ia mengakui tantangan ke depan tidak ringan, mengingat persaingan antar rumah sakit umum di DIY cukup ketat. Di Sleman sendiri terdapat 27 rumah sakit, sementara secara keseluruhan di DIY mencapai 86 rumah sakit.
"Strateginya tentu harus berubah. Tapi kami tetap optimistis karena seluruh jajaran manajemen dan karyawan siap beradaptasi," ujarnya.
Sebagai bagian dari transformasi, RS Sadewa juga menambah sejumlah layanan spesialis, seperti bedah, penyakit dalam,mata, THT, saraf, hingga patologi anatomi, tanpa meninggalkan layanan unggulan ibu, ginekologi, dan anak.
Selain itu, rumah sakit juga menindaklanjuti hasil visitasi yang mencatat sekitar 150 temuan. Sebanyak 125 temuan jangka pendek telah diselesaikan, sementara sisanya masuk kategori jangka menengah dan panjang.
"Yang jangka menengah kami targetkan selesai enam bulan ke depan, sekitar Juli. Untuk jangka panjang kami targetkan rampung sepanjang 2026, termasuk pengadaan alat-alat besar seperti CT scan," terang dr. Joko Hastaryo, M.Kes
Ia menegaskan seluruh pembiayaan pengembangan dilakukan secara mandiri karena RS Sadewa merupakan rumah sakit swasta.
"Kalau rumah sakit swasta, ya dari kantong sendiri," bebernya.
Dengan perubahan ini, RSU Sadewa berharap dapat terus berkontribusi dalam pelayanan kesehatan masyarakat serta memperluas jangkauan layanan secara berkelanjutan. (iza)
Editor : Bahana.