Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Mengenal Cacar Api atau Dompo, Penyakit Kulit Nyeri Akibat Virus Lama yang Kembali Aktif

Magang Radar Jogja • Selasa, 16 Desember 2025 | 17:00 WIB

cacar api
cacar api
Cacar api, yang juga dikenal dengan sebutan dompo atau herpes zoster, merupakan penyakit kulit yang sering menimbulkan rasa nyeri hebat dan tidak nyaman.

Penyakit ini disebabkan oleh reaktivasi virus varicella-zoster, yaitu virus yang sama yang menyebabkan cacar air.

Setelah seseorang sembuh dari cacar air, virus tersebut tidak benar-benar hilang dari tubuh, melainkan “tidur” di dalam sistem saraf dan dapat aktif kembali bertahun-tahun kemudian dalam bentuk herpes zoster.

Ketika virus kembali aktif, gejala biasanya diawali dengan rasa tidak enak badan, demam ringan, sakit kepala, atau sensasi nyeri, panas, dan kesemutan di satu area tubuh.

Beberapa hari kemudian, muncul ruam kemerahan yang berkembang menjadi lenting-lenting kecil berisi cairan.

Ruam ini umumnya muncul di satu sisi tubuh saja, mengikuti jalur saraf, dan paling sering terlihat di area dada, punggung, perut, atau wajah.

Rasa nyeri yang ditimbulkan sering kali lebih dominan dibandingkan tampilan ruamnya, bahkan bisa terasa seperti terbakar atau ditusuk-tusuk.

Cacar api dapat menyerang siapa saja, tetapi risikonya lebih tinggi pada orang berusia di atas 50 tahun, mereka yang memiliki daya tahan tubuh lemah, serta individu dengan kondisi tertentu seperti diabetes, kanker, atau sedang menjalani terapi imunosupresif.

Stres berkepanjangan dan kelelahan berat juga diyakini dapat memicu aktifnya kembali virus ini, karena kondisi tersebut menurunkan kekebalan tubuh.

Meski terlihat seperti penyakit kulit biasa, cacar api tidak boleh dianggap sepele. Salah satu komplikasi yang paling ditakuti adalah nyeri saraf berkepanjangan atau postherpetic neuralgia, yaitu rasa nyeri yang tetap bertahan meskipun ruam sudah sembuh.

Nyeri ini bisa berlangsung berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun, dan sangat mengganggu kualitas hidup penderitanya.

Jika herpes zoster menyerang area wajah atau mata, risiko gangguan penglihatan hingga kebutaan juga dapat terjadi apabila tidak ditangani dengan tepat.

Penanganan cacar api umumnya melibatkan pemberian obat antivirus untuk menekan perkembangan virus, terutama jika diberikan dalam 72 jam pertama sejak munculnya ruam.

Selain itu, dokter juga dapat meresepkan obat pereda nyeri, obat antiinflamasi, atau krim tertentu untuk mengurangi rasa gatal dan perih.

Istirahat cukup dan menjaga kebersihan area kulit yang terkena sangat penting untuk mempercepat proses penyembuhan dan mencegah infeksi sekunder.

Perlu dipahami bahwa cacar api tidak menular seperti cacar air.

Namun, cairan dari lenting cacar api dapat menularkan virus varicella-zoster kepada orang yang belum pernah terkena cacar air atau belum mendapatkan vaksin, yang kemudian bisa mengalami cacar air, bukan cacar api.

Oleh karena itu, penderita disarankan menutup ruam dengan baik dan menghindari kontak langsung dengan bayi, ibu hamil, atau orang dengan daya tahan tubuh rendah.

Pencegahan cacar api dapat dilakukan melalui vaksinasi herpes zoster, terutama bagi kelompok usia lanjut.

Vaksin ini terbukti dapat menurunkan risiko terkena cacar api serta mengurangi keparahan gejala dan komplikasi jika penyakit tetap muncul.

Menjaga daya tahan tubuh dengan pola hidup sehat, mengelola stres, tidur cukup, dan konsumsi makanan bergizi juga berperan penting dalam mencegah reaktivasi virus.

Cacar api bukan hanya soal ruam di kulit, tetapi juga berkaitan erat dengan kesehatan saraf dan sistem imun. Mengenali gejala sejak dini dan segera mencari penanganan medis menjadi kunci utama agar penyakit ini tidak berkembang lebih parah dan meninggalkan dampak jangka panjang bagi penderitanya.


Writer Naela Alfi Syahra

Editor : Bahana.
#cacar api