Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Kasus Kanker Payudara di Indonesia Terus Meningkat, Pemerintah Dorong Deteksi Dini dan Edukasi Masyarakat

Magang Radar Jogja • Kamis, 23 Oktober 2025 | 21:42 WIB
Photo
Photo

RADAR JOGJA - Kasus kanker payudara di Indonesia terus menjadi tantangan besar bagi sistem kesehatan nasional.

Menurut data Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes), insiden kanker payudara di Indonesia pada tahun 2022 mencapai sekitar 66 000 kasus baru.

Dari data tersebut, kanker payudara menempati peringkat teratas jenis kanker yang paling banyak diidap oleh wanita di Indonesia, dengan angka insiden sekitar 42 per 100.000 penduduk.

Sementara data Globocan menyatakan bahwa kanker payudara merupakan jenis kanker dengan jumlah kasus tertinggi di Indonesia, dengan lebih dari 68.858 kasus baru dan 22.430 kematian tercatat hanya pada 2020. Angka tersebut diprediksi meningkat dari tahun ke tahun.

Salah satu faktor pemicu tingginya angka adalah deteksi dini yang masih rendah. Dilaporkan bahwa sekitar 70% pasien datang ke fasilitas kesehatan ketika kanker sudah pada stadium lanjut (stadium III atau IV).

Keterlambatan ini terkait dengan kurangnya kesadaran terhadap gejala awal, akses terbatas ke fasilitas medis, serta sistem rujukan yang belum optimal di banyak wilayah Indonesia.

Selain itu, faktor gaya hidup juga turut berkontribusi besar. Penelitian menunjukkan bahwa obesitas, kurang aktivitas fisik, konsumsi alkohol, serta penggunaan hormon tertentu dapat meningkatkan risiko kanker payudara.

Pemerintah melalui Kemenkes dan berbagai LSM sudah membuat program untuk mempromosikan skrining payudara sendiri (SADARI) dan pemeriksaan payudara klinis (SADANIS) sebagai cara pencegahan dan deteksi awal.

Namun, meskipun ada kebijakan dan program, implementasi di lapangan masih beragam, terutama di daerah‐terpencil atau dengan fasilitas kesehatan terbatas. Faktor seperti distribusi dokter onkologi dan layanan rujukan menjadi tantangan.

Untuk itu, kolaborasi antara pemerintah, sektor kesehatan, komunitas dan masyarakat sangat dibutuhkan agar angka insiden dan kematian akibat kanker payudara di Indonesia dapat ditekan secara signifikan dalam beberapa tahun ke depan.

Dengan peningkatan kesadaran, edukasi berkelanjutan, serta pemerataan layanan kesehatan, harapannya angka kematian akibat kanker payudara dapat berangsur menurun dan kualitas hidup para penyintas semakin meningkat.

Penulis: Adella Haviza

Editor : Bahana.
#Kanker Payudara #kemenkes