MAGELANG – Jumlah rumah sakit di Indonesia terus bertambah, baik milik pemerintah maupun swasta. Kondisi ini tidak lagi dipandang sebagai arena persaingan, melainkan peluang kolaborasi untuk memperkuat layanan kesehatan.
Ketua Umum Asosiasi Rumah Sakit Swasta Indonesia (ARSSI) Iing Ichsan Hanafi mengatakan, kerja sama dengan rumah sakit pemerintah bisa diwujudkan di banyak aspek.
Mulai dari peningkatan kompetensi sumber daya manusia, seperti perawat, tenaga radiologi, hingga petugas front office melalui pelatihan bersama, hingga kerja sama pengadaan obat dan alat kesehatan.
"Kalau tempat tidur di rumah sakit swasta penuh, bisa dirujuk ke rumah sakit lain. Tidak mungkin rumah sakit bisa kuat sendirian, harus saling mendukung," jelas Iing usai melantik pengurus ARSSI Cabang Magelang, Sabtu (20/9).
Meski kolaborasi dinilai kunci, Iing mengingatkan ada tiga tantangan besar yang tengah dihadapi rumah sakit. Pertama, implementasi Kelas Rawat Inap Standar (KRIS) yang sedang berjalan. Kedua, penyesuaian tarif diarchy dan ketiga, penerapan sistem rumah sakit rujukan berbasis kompetensi.
Regulasi-regulasi baru ini, menurutnya, jangan sampai membebani rumah sakit swasta. Sebab berbeda dengan RSUD, rumah sakit swasta tidak mendapat subsidi sepeserpun dari pemerintah. Sehingga manajemen rumah sakit swasta harus benar-benar kokoh.
"Bayangkan, tarif layanan RSUD dengan rumah sakit swasta disamakan. Padahal RSUD dapat anggaran, sedangkan swasta harus bertahan dari pengelolaan sendiri," tegasnya.
Ketua ARSSI Cabang Magelang M Iqbal Gentur Bismono menambahkan, sejumlah persoalan yang sering dihadapi rumah sakit swasta, antara lain hubungan dengan BPJS Kesehatan, kekurangan tenaga dokter, hingga pengadaan obat-obatan.
Dengan adanya asosiasi, diharapkan kendala-kendala tersebut dapat dicarikan solusi bersama.
Iqbal menegaskan pentingnya menjalin kolaborasi dengan rumah sakit pemerintah. Menurutnya, meski sama-sama melayani peserta BPJS, kondisi geografis antarwilayah membuat kebutuhan kesehatan masyarakat berbeda-beda.
"Contohnya, masyarakat Tegalrejo dan Mertoyudan sama-sama peserta BPJS, tapi kebutuhan layanannya berbeda. Jadi kami melihat RSUD bukan pesaing, melainkan mitra dalam memberikan pelayanan," lontarnya. (aya/pra)
Editor : Heru Pratomo