RADAR JOGJA - Pada akhir-akhir ini kasus bunuh diri sangatlah marak terjadi, terutama pada kalangan mahasiswa.
Belum lama ini kasus bunuh diri terjadi pada mahasiswa Undip (Universitas Diponegoro) Semarang. Kejadian itu terjadi pada bulan Agustus lalu.
Bunuh diri merupakan sebuah perilaku yang sangat tabu untuk dilakukan di Indonesia. Menurut pandangan agama, bunuh diri atau mengakhiri hidup dengan sengaja merupakan dosa besar.
Akhir-akhir ini kasus bunuh diri di Indonesia sering terjadi terutama pada kalangan mahasiswa. Penyebab utamanya karena mereka memiliki kondisi depresi yang berat.
Depresi berat muncul karena menumpuknya masalah-masalah di kehidupan pribadinya.
Akibat depresi itu kemudian memunculkan reaksi yang berlebih, salah satunya memutuskan untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri.
Dilansir dari ReJogja. menurut Psikolog Klinis Kasandra Putranto beberapa masalah yang dihadapi oleh mahasiswa yang dapat mengakibatkan bunuh diri diantaranya keuangan, masalah dengan dosen, hubungan akademis, permasalahan dengan teman, masalah percintaan, dan gangguan kesehatan.
Mereka yang memutuskan untuk bunuh diri beranggapan bahwa dengan diakhirinya hidup maka masalah-masalah tersebut akan selesai.
Mahasiswa yang masih tergolong labil dan tidak adanya dukungan dan dorongan dari orang-orang terdekat menyebabkan pemikiran untuk mengakhiri hidup muncul dengan mudah.
Berikut beberapa faktor yang dapat menyebabkan resiko bunuh diri di kalangan mahasiswa;
Tekanan Akademik
Tekanan akademik ini sering sekali menjadi salah satu faktor utama tingginya kasus bunuh diri di kalangan mahasiswa. Tekanan akademik tersebut seperti persaingan yang sengit dan beban studi yang berat. Masalah tersebut menyebabkan tingkat stres yang tinggi.
Tekanan Keluarga
Setiap keluarga terutama memiliki harapan dan keinginan yang besar terhadap anaknya. Mereka memiliki ekspektasi-ekspektasi yang tinggi, namun anak merasa tidak mampu memenuhinya. Ekspektasi yang tinggi tersebut yang dapat menyebabkan tingkat stres anak meningkat.
Masalah Kesehatan Mental
Sebagian besar mahasiswa yang merasa memiliki gangguan mental enggan untuk memeriksakannya kepada para ahli.
Mereka seringkali melakukan diagnosa sendiri, sehingga terkadang menimbulkan salah diagnosa. Masalah mental yang sering muncul di kalangan remaja seperti kecemasan, depresi, gangguan bipolar, dan lain-lainnya.
Tidak adanya pendampingan dari para ahli akan menyebabkan masalah tersebut semakin besar dan mengarah kepada aksi bunuh diri.
Upaya pencegahan kasus bunuh diri di kalangan mahasiswa berasal dari orang-orang terdekat seperti teman dan keluarga terutama orang tua.
Caranya yaitu dengan menjadi pendengar yang baik dan memberikan dorongan dan motivasi.
Dorongan dan motivasi tersebut bukan berupa tekanan atau penghakiman namun sebuah solusi terhadap masalah yang sedang dihadapinya.
Dengan begitu, mereka yang merasa depresi akan merasa terbantu dan merasa tidak sendiri.
Editor : Bahana.