RADAR JOGJA – Unit Pelayanan Transfusi Darah (UPTD) RSUP Dr Sardjito meraih sertifikat Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB) dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Sertifikat ini diberikan melalui Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI), Jumat (3/12).

Direktur Utama RSUP dr. Sardjito Eniarti menuturkan proses meraih sertifikat CPOB cukup panjang. Pelayanan transfusi darah menjadi fokus utama.Tentunya dengan mengedepankan standar medis guna mendapatkan donor darah yang sehat.

“Proses yang kami lakukan panjang dan kompleks untuk akhirnya bisa mendapatkan sertifikat ini, sertifikat CPOB menjadi penghargaan yang luar biasa untuk UPTD RSUP Sardjito,” jelasnya, Jumat (3/12).

Transfusi darah sendiri merupakan salah satu pelayanan penting dalam perawatan pasien. Fungsinya untuk meminimalisasi resiko serendah mungkin. Selain itu juga mencapai epikasi klinis seoptimal mungkin.

Proses untuk mengambil darah juga tidaklah singkat. Terlebih dahulu diawali dengan rekruitmen calon donor. Tahapan selanjutnya seleksi donor, pengambilan darah donor, skrining infeksi, produksi komponen darah dan lainnya.

“Kami berkomitmen untuk menjaga mutu dan keamanan komponen darah yang dihasilkan. Selain itu, juga mendukung produksi plasma konvalesen guna menyokong program nasional fraksionasi plasma yang memproduksi albumin dan imunoglobin, sebab sampai saat ini masih impor sehingga harganya mahal,” katanya.

Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Penny K. Lukito mengatakan sertifikasi CPOB sangatlah penting. Fungsinya untuk kemandirian akses dan produksi produk-produk plasma darah. Terlebih plasma darah semakin dibutuhkan dimasa pandemi Covid-19.

“Perlunya sertifikasi juga untuk membangun ketahanan kesehatan nasional karena kita sudah mampu menyiapkan komponen darah yang aman dan bermutu,” ujarnya.

Penny menuturkan standarisasi UPTD masih terus berlangsung. Berdasarkan data BPOM ada sekitar 460 UPTD yang harus diperjuangkan. Sehingga mampu memenuhi kualitas darah dengan standar internasional.

“Suatu tanggungjawab untuk kita semua, apalagi industri fraksionasi plasma darah saat ini 100 persen masih tergantung secara impor,” katanya. (om9/dwi)

Kesehatan