RADAR JOGJA – Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana (BKKBN) meluncurkan aplikasi elektronik Siap Nikah dan Hamil  atau disingkat Elsimil. Dengan adanya aplikasi ini setiap pasangan pengantin yang hendak menikah bakal mendapatkan bimbingan kesehatan reproduksi.

“Bimbingan diberikan tiga bulan sebelum pernikahan berlangsung,” ucap Sekretaris Utama (Sestama) BKKBN Tavip Agus Rayanto dalam acara Penguatan Peran Serta Mitra Kerja dan Stakeholder Implementasi Kegiatan Prioritas Pembangunan Keluarga melalui Sosialisasi Pencegahan Stunting di Balai Aspirasi Warga Jalan Kaliurang Km 6,5 Dusun Purwosari, Sinduadi, Mlati, Sleman, Sabtu (27/11).

Soal aplikasi Elsimil, mantan kepala Dinas Perhubungan DIJ itu menjelaskan pasangan calon pengantin diminta mengisi kolom sejumlah pertanyaan. Mulai dari i tingkat lengannya kurus, berapa Hb-nya dan lainnya. Juga informasi lokasi bidan di wilayah terdekat untuk konsultasi kehamilan.

Usai mengisi dan mengikuti serta memenuhi syarat menikah,  BKKBN memberikan sertifikat elektronik. Nantinya sertifikat itu dipakai sebagai syarat melaksanakan perkawinan di Kantor Urusan Agama (KUA) Kementerian Agama RI.

Meski demikian, birokrat kelahiran Purworejo ini menambahkan setelah mengisi data aplikasi Elsimil tidak semua calon pengantin memenuhi syarat. Ada yang tidak mendapatkan sertifikat. Antara lain disebabkan karena hb kurang dan lengannya kecil.

Pernikahan tetap dapat dilangsungkan. Menyikapi kondisi itu, tim dari BKKBN merekomendasik agar setelah menikah pengantin perempuan tidak hamil dulu. Selanjutnya, pasangan pengantin mendapatkan bimbingan kesehatan mencegah terjadinya stunting. Bimbingan juga mencakup makanan bergizi yang harus dikonsumsi sebelum dan selama kehamilan.

Diingatkan, aplikasi Elsimil bertujuan mendeteksi lebih awal terhadap potensi bayi yang akan dilahirkan dari calon pasangan pengantin. Bila dari sisi kesehatan reproduksi belum memenuhi, maka kehamilan sebaiknya ditunda sampai pasangan pengantin benar-benar sudah siap punya momongan.

Anggota Komisi IX DPR RI Sukamto juga berbicara dalam acara tersebut. Dia mengajak peserta bersama keluarganya patuh dalam menjalankan protokol kesehatan. Ini karena beberapa hari belakangan ada tren peningkatan orang yang terkonformasi Covid-19. Hal tersebut juga terjadi di DIJ. Beberapa siswa yang mengikuti kegiatan pembelajaran tatap muka (PTM) di sekolah ada yang positif terkena virus korona.

Akibatnya PTM di beberapa sekolah terpaksa dihentikan. Kegiatan belajar mengajar di sekolah tersebut untuk sementara waktu ditutup. “Harapannya kita PTM di sekolah terus berjalan. Caranya disiplin dan patuhi protokol kesehatan. Jangan pernah kendor. Pakai masker, rajin cuci tangan, jaga jarak, jauhi kerumunan dan kurangi mobilitas yang kurang penting,” pintanya.

Sukamto mengingatkan pembangunan bukan hal soal fisik. Namun juga penyiapan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas sejak dini. Upaya menekan angka stunting merupakan bagian dari upaya membangun keluarga sehat, produktif dan berkualitas. “Pembangunan keluarga itu dimulai dari ibu. Ingat sumber ketentraman dalam keluarga berada di tangan ibu,” ujar Sukamto.

Dia mendukung berbagai program dan kegiatan BKKBN tersebut. Terutama dalam mewujudkan keluarga berkualitas dengan cara mencegah terjadinya stunting sejak dini. Bentuk pencegahan itu dengan memberikan asupan makanan yang bergizi. “Gizi dibutuhkan dari bayi di kandungan, balita hingga manula,” katanya.

Saat dibuka sesi tanya jawab, banyak peserta mengajukan pertanyaan. Khususnya menyangkut aplikasi Elsimil. Salah satu pertanyaan yang menonjol soal penerapan aplikasi Elsimil bagi keluarga tidak mampu atau yang tidak punya ponsel android. Acara yang diikuti 200 peserta juga menanyakanberbagai program kegiatan BKKBN. Kepala Perwakilan BKKBN DIJ Shodiqin juga hadir dalam acara tersebut. (kus/dwi)

Kesehatan