RADAR JOGJA – Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) DIJ bersama Magister Farmasi UII konsisten mengedukasi tentang pentingnya antimikroba. Beragam upaya dilakukan agar masyarakat mengenal manfaat bagi kesehatan. Termasuk tentang penggunaan antibiotik dengan dosis yang tepat.

Salah satu upaya dengan kampanye di kawasan Titik Nol Kilometer. Berupa pembentangan pesan-pesan yang dibawa para apoteker. Harapannya agar masyarakat dapat mengetahui secara detil manfaat dari antimikroba.

“Kami tetap konsisten memberikan edukasi kepada masyarakat. Termasuk tentang pemakaian antibiotik yang benar dan sesuai dosis. Agar pengobatan terhadap sebuah penyakit optimal,” jelas perwakilan IAI DIJ Sukir Satrija Djati ditemui di Titik Nol Kilometer, Kamis (25/11).

Sukir menjelaskan dampak penggunaan antibiotik tanpa resep sangatlah berbahaya. Walaupun efek samping tidak serta-merta, namun dalam jangka waktu yang panjang bisa membuat resistensi terhadap penggunanya. Terutama membentuk kekebalan tubuh terhadap antibiotik tertentu.

Itulah mengapa dalam mengonsumsi antibiotik wajib disertai resep dokter. Konsumsi juga wajib sesuai dengan anjuran tersebut. Seperti minum 3 x 1 tablet sehari, artinya antbiotik diminum setiap 8 jam sehari dan harus habis.

“Walaupun pasien merasa sembuh harus dihabiskan sampai batas waktu yang ditentukan dokter, agar dosisnya sesuai dan tepat guna,” katanya.

Ketua Apoteker Tanggap Bencana DIJ Estri Karyani menjelaskan antimikroba merupakan salah satu temuan terbaik dalam dunia kesehatan. Fungsinya untuk mengendalikan maupun membunuh mikroba. Sayangnya resitensi tubuh terhadap antimikroba juga bermunculan.

Estri menjelaskan munculnya resistensi akibat penggunaan antimikroba yang tidak tepat. Bisa dari resep yang berlebihan hingga kesalahan penggunaan oleh pasien maupun masyarakat. Jika tak terkendali, dia memprediksi 10 juta manusia meninggal setiap tahunnya pada 2050.

“Bakteri, jamur, virus, parasit yang semula bisa dikendalikan dan dibunuh dengan antimikroba, beberapa mulai menunjukkan sifat kebal. Sehingga menyebabkan infeksi bertambah parah, penyebaran infeksi semakin masif dan resiko kematian meninggi,” ujarnya. (om9/dwi)

Kesehatan