RADAR JOGJA – Belum lama bernafas lega, klaster Covid-19 kembali muncul di Jogjakarta. Kali ini tercatat ada 2 klaster penularan di Kabupaten Bantul. Klaster pertama adalah jenguk orang sakit dan klaster kedua dari kegiatan senam.

Sekprov Pemprov DIJ Kadarmanta Baskara Aji mengingatkan warga untuk tetap taat protokol kesehatan. Dia tak ingin tingginya capaian vaksin dan melandainya kasus membuat warga lengah. Hingga akhirnya terbius dalam eforia dan melupakan penerapan protokol kesehatan.

“Jangan sampai lengah, vaksin itu bukan jaminan bebas terpapar Covid-19. Tetap wajib disiplin sehari-hari,” jelasnya ditemui di Kompleks Kantor Kepatihan Pemprov DIJ, Rabu (13/10).

Munculnya kasus atau klaster Covid-19 berdampak pada level Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) di Jogjakarta. Terlebih saat ini Jogjakarta belum juga turun dari status PPKM Level 3. Padahal dari catatan kasus harian cenderung melandai.

Penentuan level PPKM mengacu pada angka Bed Occupancy Ratio (BOR) dan positivity rate. Kombinasi ketiganya terakumulasi dalam hitungan sepekan. Apabila muncul lonjakan kasus maka berdampak secara signifikan.

“Kalau sampai angka positif meningkat yang lain kan otomatis ikut naik. Tentu akan menyebabkan level PPKM di Jogjakarta tidak segera turun kalau ada klaster,” katanya.

Aji meminta agar Pemkab Bantul bergerak cepat. Dengan melakukan tracing secara merata. Melacak sebaran kasus dan mengisolasi sumber penularan kasus. Baik untuk klaster jenguk orang sakit maupun klaster senam.

“Segera lakukan tracing. Seperti klaster tilik (jenguk), kalau yang positif bukan pasien yang dijenguk maka perawatnya kena tracing,” ujarnya.

Kedua klaster ini telah terpantau Satgas Penanganan Covid-19 Bantul. Untuk klaster menjenguk terdapat 9 orang. Seluruhnya warga Padukuhan Gokerten, Kalurahan Srigading, Kapanewon Sanden. Kesembilannya terpapar Covid-19 pasca menjenguk tetangga yang sedang sakit.

Kepala Urusan Perencanaan Kalurahan Srigading Sulistiantoro menuturkan detil klaster. Berawal saat kesembilan warga menjenguk tetangga. Pada awalnya warga mengira hanya sakit biasa. Ini karena perawatan berlangsung dirumah oleh keluarganya.

“Jadi kesembilannya swab dan hasilnyab positif. Kalau ditambah yang sakit ya kasusnya 10. Semuanya tidak bergejala, dan menjalani isolasi mandiri di rumah masing-masing,” katanya.

Untuk klaster kedua berada di Kapanewon Bambanglipuro. Deteksi awal saat seorang warga melakukan periksa kesehatan mandiri. Tujuannya untukj persyaratan pergi ke Kalimantan. Dari hasil swab dinyatakan positif Covid-19.

“Setelahnya dilakukan pemeriksaan dan tracing. Hasilnya istri dan ibu warga yang akan pergi ke Kalimantan juga terpapar,” ujar Kepala Puskesmas Bambanglipuro Tarsisius Glory. (dwi)

Kesehatan