RADAR JOGJA – Meski telah memasuki musim kemarau, beberapa wilayah di Gunungkidul belakangan justru diguyur hujan. Pergeseran musim dari rata-rata normal, atau anomali cuaca semacam ini sepatutnya membuat masyarakat lebih waspada.

Anomali cauaca dapat memicu penyebaran penyakit, salah satunya leptospirosis. Penyakit ini dibawa melalui kencing dan kotoran tikus, sehingga memerlukan perhatian agar tidak menambah beban dalam kesehatan ditengah pandemi.Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Gunungkidul, Dewi Irawaty mengatakan, selain Covid 19 ada dua penyakit akut yang perlu mendapatkan perhatian yaitu Leptospirosis dan Demam Berdarah Dengue (DBD).“Leptospirosis merupakan salahsatu penyakit Zoonosa di Kabupaten Gunungkidul yang setiap tahun selalu terjadi dengan tingkat kematian yang cukup tinggi,” kata Dewi Irawaty saat dihubungi, Minggu (8/8).

Dia menjelaskan, dari hasil penyelidikan epidemiologi pada setiap kasus kematian akibat leptopsirosis karena deteksi dini masih lemah. Terjadi keterlambatan pemberian tatalaksana yang tepat dan berakibat pada resiko terjadinya kematian.“Untuk meningkatkan deteksi dini penyakit leptospirosis,kami mengambil kebijakan membangun jejaring dengan fasilitas pelayanan kesehatan swasta (Fasyankes) tingkat pertama,” ujarnya.

Yakni, Klinik Pratama, Dokter Praktek Swasta, Perawat Praktek Madiri dan Bidan Praktek Mandiri yang ada diseluruh kabupaten Gunungkidul dengan UPT Puskesmas sebagai Koordinator dalam jejaring tersebut sesuai kewilayahannya.
Sementara itu, Kepala Bidang Pengendalian Penyakit (P2) Dinkes Kabupaten Gunungkidul, Sumitro mengatakan, sebagian besar masyarakat yang mudah tertular leptospirosis para petani. Termasuk petani rumput, mengingat cara penularan leptospirosis melalui air.“Kalau tidak menerapkan pola hidup bersih mudah terjadi infeksi berbagai penyakit,” kata Sumitro.

Menurutnya, leptospirosis adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh masuknya bakteri leptospira ke dalam tubuh manusia. Bisa masuk ke dalam tubuh manusia jika ada luka. Bakteri biasanya ditularkan melalui tikus kemudian dapat dengan mudah tertular pada seseorang jika terdapat luka terbuka dan tidak sengaja menyentuh. “Bakteri dapat berkembang pada luka terbuka dan dapat merenggut nyawa,” ujarnya.

Berdasarkan data, selama delapan tahun terakhir setiap tahunnya ada temuan kasus leptospirosis di Gunungkidul. Di 2013 ada satu kasus, 2014 terdapat lima kasus, 2015 ada dua kasus, 2016 ada empat kasus, 2017 sebanyak 54 kasus, 2018 ada 16 kasus, 2019 mencapai sembilan kasus. Sementara 2020 hingga November ada enam kasus. Wilayah rawan leptospirosis adalah Kapanewon Gedangsari, Ngawen, Nglipar, Patuk, Semin karena memiliki area persawahan cukup luas. Meski demikian daerah lain juga memiliki kerawanan karena persebaran tikus. (gun/pra)

Kesehatan