RADAR JOGJA – Gaya hidup yang tidak sehat membuat tingginya pravalensi PTM di Indonesia, tak hanya lanjut usia saja tetapi mengancam kepada kelompok usia produktif. Usia 10 sampai 14 tahun. Ini mengakibatkan perekonomian terancam dan berdampak besar.

Hal itu diungkapkan oleh Dosen Ilmu Pendidikan Dokter Fakuktas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) Dr dr Mahendro Prasetyo Kusumo, MMR, FISPH, FISCM, AIFO-K di Puskesmas Pundong, Bantul Maret lalu.

Dia menilai masyarakat harus paham perlunya minum obat dan kontrol secara rutin bagi yang menderita penyakit kronis. Di antaranya hipertensi (HT) dan diabetes mellitus (DM).

Dalam pengabdian masyarakat yang dilakukan perlu untuk mencari model yang sesuai keinginan pasien DM dan HT di Puskesmas Pundong Kabupaten Bantul. Dokter Mahe menjelaskan, model pemantauan pada pasien DM dan HT selama pandemi Covid-19 di layanan primer sangat diperlukan.

Model ini diharapkan mampu mencegah komplikasi akibat DM dan HT. Semakin cepat pemantauan dilakukan, maka semakin cepat komplikasi dapat dicegah. Model tersebut meliputi pemantauan pola makan, aktivitas fisik, konsumsi obat dan kontrol ke dokter yang melibatkan pasien, keluarga, dokter dan perawat di Puskesmas.

“Kata kunci diabetes mellitus, hipertensi, keluarga, dan deteksi dini,” tegas dr Mahe yang juga sekaligus ketua pengabdian masyarakat di wilayah Pundong, Bantul itu.

Yanuar Primanda, S.Kep, Ns, MNS sebagai tim pengabdian masyarakat  sekaligus dosen Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UMY juga menjelaskan, dalam melakukan pemantauan pasien DM dan HT diperlukan inovasi berbasis IT. Apalagi saat itu wilayah Pundong termasuk dalam zona merah Covid-19. Berdasarkan kondisi ini, dr. Mahe dan tim pengabdian masyarakat berhasil merancang model pemantauan pasien DM dan HT berbasis aplikasi WhatsApp.

Pemantauan pasien DM dan HT menggunakan WhatsApp dilakukan kepada 12 pasien DM dan HT. Pemantauan dilakukan setiap hari dimulai dari 23 Februari-8 Maret 2021. Hasil pemantuan didapatkan, penderita DM dan HT sebagian besar sudah dapat melakukan kontrol pola makan dan patuh minum obat. Tapi penderita DM dan HT masih kurang melakukan olahraga.

Kepala Puskesmas Pundong Bantul dr Jaka Hardalaksana mengapresiasi model yang telah dirancang dr. Mahe karena model tersebut sangat akplikatif. “Saya agak lega karena model tersebut dapat membantu saya dalam menurunkan kasus penularan COVID-19 di wilayah kami,” ujar dr. Jaka. (om1/pra/ila)

Kesehatan