RADAR JOGJA – Pekan Glaukoma Sedunia 2021 diperingati hari ini (12/3) mendatang. Bertemakan The World is Bright, Save your Sight!, membawa pesan agar masyarakat tidak ragu memeriksakan kondisi mata secara berkala sebelum terjadi gangguan penglihatan.

Guru Besar Ilmu Kesehatan Mata UGM, Profesor dr. Suhardjo Sp.M(K) menjelaskan upaya deteksi dini penting dilakukan. Agar saat kondisi mata terdeteksi tidak lagi sehat, dapat segera ditanggulangi dan diberikan terapi sehingga memberikan hasil yang maksimal.

Menurut Suhardjo, salab satu penyakit glaukoma dikenal sebagai pencuri penglihatan. Karena kondisi tersebut, akan merusak mata secara perlahan dan permanen. Bahkan sebelum ada gangguan yang dirasakan penderita. Menurut data International Diabetes Federation pada 2019, menunjukkan Indonesia adalah negara dengan jumlah penderita diabetes melitus terbanyak ketujuh di dunia. “Yakni sebanyak 10.681.400 penderita,” jelasnya di RSUP Dr Sardjito kemarin (10/3).

Dengan, prevalensi retinopati diabetika sekitar 35 persen dari seluruh penderita diabetes mellitus. Dan 12 persen diantaranya terancam mengalami kebutaan yang sebenarnya dapat dicegah. Karena itu, deteksi dini berupa pemeriksaan mata berkala pada setiap pasien diabetes akan menyelamatkan penglihatan.

Selain itu, penyebab utama kebutaan dan gangguan penglihatan pada penduduk Indonesia di atas usia 50 tahun adalah katarak yang perlu dioperasi. Dengan presentase sebesar 77,7 persen. Hal tersebut sesua dengan data dari Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan pada survei tahun 2014-2016. Namun seiring naiknya angka harapan hidup, jumlah penderita katarak juga makin bertambah. Insidensi katarak adalah sebesar 1 per 1000, artinya di Indonesia terdapat 270.000 penderita kebutaan katarak yang baru setiap tahunnya. “Dan tidak semua penderita katarak memiliki dana atau jaminan kesehatan,” tuturnya.

Jika jumlah katarak yang dioperasi setiap tahun kurang dari 270.000, kata Suhardjo, maka akan terjadi backlog penyandang buta katarak. Terkait kondisi tersebut, bakti sosial operasi katarak masih dibutuhkan di suatu daerah. Kegiatan bakti sosial operasi katarak gratis memberi solusi untuk keluarga harapan agar memiliki penglihatan bebas katarak. Sehingga mereka dapat kembali produktif, mandiri, dan kualitas hidup yang meningkat.

Suhardjo berharap, seluruh rangkaian baksos dapat membuka wawasan tentang glaukoma, katarak dan retinopati diabetika. Sehingga masyarakat semakin waspada dalam memelihara fungsi penglihatan. “Upaya yang dapat dilakukan adalah melalui pemeriksaan mata berkala bahkan sejak sebelum timbul gangguan penglihatan,” ungkap Suhardjo.(eno/pra)

Kesehatan