RADAR JOGJA – Epidemiolog UGM Bayu Satria Wiratama menyebut adanya kemungkinan varian baru Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) muncul di Indonesia. Bahkan, dia memastikan presentase kemunculan cukup besar. Namun, perlu upaya pendeteksian secara total untuk screening.

Kecilnya upaya pemetaan sendiri merupakan imbas dari kegiatan surveilans genomik SARS COV-2 yang belum maksimal. Padahal, menurutnya, kegiatan analisis secara sistematis dan terus menerus sangatlah penting. Sementara untuk saat ini sangat kecil.

“Kemungkinannya sangat besar, tapi kemungkinan kita bisa mendeteksinya kurang begitu besar. Baru sekitar 0,03 persen dari seluruh sampel, masih kecil,” jelasnya, Selasa (23/3).

Bayu menuturkan, potensi terbilang besar karena aktivitas penularan Covid-19 di Indonesia masih sangat tinggi. Bahkan dalam beberapa waktu belakangan jangkauan penularan semakin meluas. Hingga ke lingkup keluarga dan tetangga.

Penularan yang terus terjadi membuat potensi virus untuk bermutasi kian besar. Terlebih akar Covid-19, virus SARS COV-2 merupakan tipe virus RNA. Artinya seperti virus influenza yang mudah bermutasi.

“Dampak paling serius adalah kita akan terus menerus mengembangkan vaksin. Sebab mutasinya tidak pernah bisa secara efisien dihentikan oleh vaksin sebelumnya dan penularan akan terus berlanjut,” katanya.

Dia medorong pemerintah bergerak cepat. Berupa strategi testing, tracing, dan treatment atau 3T. Strategi ini untuk menekan transmisi dan mengantisipasi munculnya varian baru virus SARS Cov-2.

Tak hanya pemerintah, masyarakat, lanjutnya, juga memegang peranan penting. Cara paling sederhana dengan menerapkan protokol kesehatan 5M. Berupa memakai masker, menjaga jarak, mencuci tangan, mengurangi mobilitas, serta menghindari kerumunan.

“Mutasi virus ini bisa terjadi karena 3T dan 5M yang masih lemah. Walaupun mutasi terjadi sifat penularannya sama jadi tetap bisa dicegah dengan 5M,” pesannya. (dwi/ila)

Kesehatan