RADAR JOGJA – Sebanyak 14.484 sumber daya manusia (SDM) kesehatan di Sleman telah terdata dalam sistem informasi untuk bisa mendapatkan vaksin Covid-19 tahap pertama. Dari total itu, masih ada 852 orang yang belum mengisi data kesehatan.

Kepala Bidang Sumber Daya Kesehatan Dinas Kesehatan (Dinkes) Sleman Atikah Nurhesti menjelaskan, pendataan yang dilakukan menyasar seluruh nakes dengan melibatkan unsur puskesmas, rumah sakit, klinik, laboratorium, serta organisasi profesi kesehatan. Saat ini sudah ada 93,81 persen atau setara dengan 13.588 orang yang telah mengisi data kontak dan mendapatkan SMS blast dari kementerian. Nantinya calon penerima vaksin akan diberikan vaksin secara bertahap, mulai 14 Januari mendatang.

Data calon penerima vaksin, kata Atikah, tidak hanya dari kalangan tenaga kesehatan. Namun juga non nakes, termasuk penunjang administrasi, sopir, pengelola jenazah di fasilitas layanan kesehatan (fasyankes) swasta, pemerintah, praktik mandiri dan tempat karantina. Termasuk honorer, relawan, residen, internsip, koas hingga mahasiswa semester akhir kesehatan yang praktik di fasyankes. “Calon penerima vaksin di Kabupaten Sleman merupakan jumlah yang paling banyak di DIJ,” jelas Atikah Senin (4/1).

Meskipun demikian, Atikah mengaku masih belum bisa memastikan berapa orang yang akan mendapatkan vaksin di wilayah Sleman. Jumlah yang divaksin nantinya akan menyesuaikan arahan dari Kementerian Kesehatan. Nantinya vaksin yang ada akan disimpan terlebih dahulu di gedung UPT pengadaan obat dan alat kesehatan yang sudah ada standarisasi.

Kemudian vaksin akan didistribusikan ke 24 rumah sakit, 25 puskemas dan tiga klinik yang sudah siap dan sanggup untuk melakukan vaksinasi. Baik dari segi sarana, fasilitas dan tenaga. “Vaksin ini kan harus disimpan di suhu 2 hingga 18 derajat agar tidak rusak,” lanjutnya.

Sementara itu, Pengelola Program Imunimasi Dinkes Sleman Sudarto Edi Hartono menambahkan, nantinya vaksin yang diberikan sebanyak 0,5 mililiter. Diberikan dua kali dengan jeda waktu 14 hari. Mekanisme pelayanan vaksin akan diberikan pada hari Senin, Selasa, Rabu, dan Kamis. Dalam satu hari akan dibagi menjadi tiga sesi dan satu sesinya bisa melayani maksimak 20 orang.

Menurut Edi, ada 52 faskes yang siap melayani vaksin. Jika diasumsikan satu faskes bisa melayani maksimal 60 orang, maka pemberian vaksin pertama akan selesai dalam waktu satu minggu. Untuk tenaga medis yang akan memberikan vaksin, juga sudah diberi pelatihan sebelumnya. “Setelah disuntik, yang bersangkutan harus tinggal 30 menit untuk melihat reaksinya,” katanya.

Terpisah, Dirut RSUD Sleman Cahya Purnama mengaku sudah ada 622 SDM kesehatan yang telah terdata untuk bisa mendapatkan vaksin tahap pertama. Sedangkan Kepala Puskesmas Moyudan Desi menuturkan, total ada 53 SDM kesehatan yang telah terdaftar. “Nakes dan medis sudah semua,” katanya.

Sementara itu di Gunungkidul, tenaga kesehatan menjadi prioritas pemberian vaksin tahap pertama. Kepala Dinkes Kabupaten Gunungkidul Dewi Irawaty mengatakan, realisasi penyaluran vaksin secara bertahap. Mulai Pemprov DIJ, kabupaten baru kemudian didistribusikan ke puskesmas dan rumah sakit. “Kami tunggu distribusi, kemungkinan jenisnya Sinovac,” kata Dewi Irawati Senin (4/1).

Dia menjelaskan, sasaran vaksinasi di antaranya nakes yang pernah terkonfirmasi positif, hamil, dan memiliki riwayat penyakit bawaan atau pernah terjun langsung dalam penanganan. Seperti tenaga bersih-bersih, pemulasaraan jenazah dan yang lain.

“Data yang sudah masuk, ada 3.396 penerima vaksin. Semuanya merupakan sumber daya manusia di bidang kesehatan. Masing-masing orang akan mendapatkan dua dosis vaksin,” ujarnya.

Menurut Dewi, sebelum didistribusikan vaksin disimpan di cold room milik dinkes. Petugas pemberi vaksin sudah diberikan pelatihan. Dia menargetkan minimal satu puskesmas satu petugas. Begitu juga diterapkan di rumah sakit atau fasilitas kesehatan lain.

Sementara itu, Bupati Gunungkidul Badingah meminta masyarakat agar disiplin menjalankan protokol kesehatan. Persebaran virus korona masih menjadi ancaman karena penularan masih terjadi di masyarakat. “Mari bersama-sama memutus mata rantai persebaran virus korona,” katanya.

Dia mengingatkan, gerakan cuci tangan menggunakan sabun, menjaga jarak aman serta memakai masker saat di luar rumah haru terus dijalankan. Menurunya, upaya pencegahan tidak hanya dilakukan pemerintah, tapi juga masyarakat. (eno/gun/laz)

Kesehatan