RADAR JOGJA – Ikatan Dokter Indonesia (IDI) mendukung penggunaan mesin pemburu dan pembunuh Covid-19 karya ilmuan Joko Ahmad Sampurno dari Institut Ridwan Hisjam (IRH) dan Gabungan Produk Indonesia (GAPI) UMKM. Alat yang diberi nama Eukalyptus Machine Air (EMA) dinilai sebagai alternatif untuk menanagani pandemi Covid-19.

Ketua IDI Daeng Mohammad Faqih menjelaskan inovasi teknologi yang ada berupa EMA berfungsi untuk membunuh virus yang ada di ruangan. Berbeda dengan disinfektan lainnya yang biasa digunakan untuk disinfeksi selama pandemi, EMA dipastikan aman jika terhirup dan tersentuh manusia. Hal ini karena EMA memanfaatkan zat cineol yang terkandung dalam minyak kayu putih Eukalyptus.

Meskipun EMA bisa digunakan setiap harinya, masyarakat juga tetap perlu memperhatikan pertahanan diri. Seperti tetap menjalankan protokol kesehatan dengan ketat. Yakni mencuci tangan, memakai masker dan menjaga jarak. “Ini (EMA, red) adalah salah satu alternatif, karena obat Covid-19 dan vaksin juga masih diteliti serta uji klinis,” katanya Senin (4/1)

Sementara itu, pencipta EMA Joko Ahmad Sampurno menuturkan, cara kerja EMA adalah merubah cairan cineol dalam bentuk udara. Diklaim, udara yang sudah tercampur dengan cairan cineol dapat memburu dan membunuh Covid-19 hingga mencapai saluran pernapasan. Yang mana, saluran pernapasan adalah tempat Covid-19 menyerang. Selain itu, hasil zat cineol yang telah dikeluarkan EMA akan mampu membunuh virus yang juga ada pada lambung hingga usus 12 jari. “Saat bernapas, perut juga akan ikut mengembang dan udara akan masuk. Jadi EMA tidak hanya membunuh virus yang ada di ruangan,” ungkapnya.

Saat ini, EMA sudah ada dalam lima tipe dengan daya yang digunakan hanya 20-40 watt. Untuk EMA 1, mampu menjangkau ruangan dengan luas 4×5 meter persegi. EMA 2 untuk ruangan 5×6 metet persegi, hingga EMA 5 bisa digunakan untuk ruangan berukuran 10×12 meter persegi. Saat ini, zat cineol yang ada sudah memiliki izir edar. Sedangkan untuk alat EMA, sudah diajukan HaKI ke Kemenkumham DIJ. “EMA 4 dan 5 berbentuk digital yang mana bisa diatur waktu sesuai kebutuhannya,” lanjutnya.

Distributor Perwakilan GAPI UMKM Wilayah DIJ Adi Wibowo mengaku saat ini sudah aa 300 alat EMA yang diproduksi. Di DIJ, sudah ada salah satu SMK di wilayah Bantul yang menggunakan alat tersebut. Dari pemakaian tersebut dan adanya pengenalan alat, tercatar 2.000 alat EMA dipesan.

Menurutnya, dari satu liter zar cineol bisa digunakan selama 20 hari. Dengan pemakaian setiap harinya maksimal delapan jam. Waktu tersebut, bisa digunakan untuk orang yang dalam masa penyembuhan atau yang sedang terpapar Covid-19. Jika untuk pencegahan, alat bisa digunakan kurang lebih dua jam setiap harinya. (eno/pra)

Kesehatan