RADAR JOGJA- Mobilitas masyarakat yang tinggi tak dipungkiri menjadi penyebab naiknya angka positif di Indonesia.

Belum lagi ditambah kesadaran masyarakat tentang penerapan protokol kesehatan yang kian hari justru semakin turun.

Dokter Spesialis Mikrobiologi Klinik,  Raden Ludhang Pradipta mengatakan, mobilitas masyarakat yang tinggi menjadi salah satu penyebab penyebaran Covid-19 di berbagai daerah. Ia menyebut apalagi nanti ada liburan akhir tahun. “Yang bergerak itu bukan virusnya, tapi orangnya,” ujarnya, Sabtu (12/12).

“Sudah tidak lagi kita menyebut ini adaptasi kebiasaan baru karena sudah sembilan bulan, tapi harus sudah menjadi kebiasaan,” ujarnya.

Raden ludhang menyebut anjurannya untuk masyarakat itu masih sama karena protokol kesehatannya sama. “Tinggal kepatuhannya yang belum,” katanya.

Raden ludhang menambahkan, vaksin itu tidak bisa menyelesaikan masalah, tapi yang menyelesaikan masalah vaksinasi. “Kalau saya divaksin, lainnya tidak divaksin, tidak artinya. Vaksinasi itu kebijakan kesehatan masyarakat,” tuturnya.

“Epidemiolog mengatakan kalau 75 persen populasi divaksinasi, bisa tertekan virusnya. Itu artinya 175 juta penduduk Indonesia,” tambahnya.

Terkait re-infeksi Covid-19,  Raden Ludhang mengatakan harus dibuktikan dahulu dengan susunan materi genetik virusnya yang berbeda dari yang sebelumnya. “Kalau masih ditemukan susunan materi genetiknya sama, gejalanya sama, bukan re-infeksi. Untuk mengatakan tertular lagi, itu ternyata tidak mudah,” tuturnya.

“Vaksin yang ada sekarang itu memakai masker. Kalau kita ingat flu Spanyol 1918-1920, bisa hilang dengan sendirinya dengan menggunakan masker,” ujarnya.

Dokter Penanggung Jawab Layanan Mikrobiologi, PKU Muhammadiyah Jogja ini mengatakan, pihaknya melalui rumah sakitnya telah memiliki Real Time PCR dengan keunggulan 1X 12 jam sudah bisa diketahui hasilnya. “Kalau PCR itu metodenya secara molekuler. Jadi kita mendeteksi gen-gen yang ada di virus itu secara spesifik sehingga bisa menyingkirkan penyebab lain sehingga bisa betul-betul akurat sesuai standard WHO dengan pedoman Kemenkes,” ujarnya.

“Regulasinya, alatnya, tekniknya, semua terverifikasi dengan baik sehingga hasil lebih valid dan masyarakat tidak perlu ragu,” imbuhnya.

Dirut PKU Muhammadiyah Jogjakarta, Mohammad Komarudin, mengatakan PCR di tempatnya memiliki tingkat diagnosis yang lebih cepat sehingga penanganannya akan lebih cepat. “Akan bisa melindungi tenaga medis dan dokter yang melayani dan keamanan masyarakatnya,” ucapnya.

“Kalau pasien meninggal dunia, ada kepastian statusnya karena banyak yang terjadi saat ini, harus menunggu hasil diagnosa sampai beberapa hari padahal sudah dimakamkan dengan protokol kesehatan,” ujarnya.

Terkait pencegahan Covid-19, ia menekankan edukasi melalui berbagai media untuk 3M (memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak) dan 1 T (tidak berkerumun). “Saat ini memprihatinkan, kepatuhan kepada protokol kesehatan semakin turun semakin hari. Survei dari BNPB terakhir, kalau dulu bisa di atas 80 persen, kini di bawah 50 persen,” ujarnya.

Ia menduga naiknya angka positif dan angka kematian harian karena ketidakpatuhan terhadap protokol kesehatan. “Kita usaha apapun tanpa partisipasi masyarakat akan percuma. Patuhi protokol kesehatan,” tutupnya. (sky)

Kesehatan