RADAR JOGJA – Jumlah balita yang periksa ke pos pelayanan keluarga berencana kesehatan terpadu (posyandu) di Kabupaten Sleman berkurang selama pandemi Covid-19. Dari sasaran awal tahun 2020 sekitar 58 ribu bayi dan balita, saat pandemi ini menjadi 55 ribu bayi dan balita.

Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat (Kesmas) Dinkes Sleman Dokter Wahyu Wibowo menuturkan, penurunan angka tersebut disebabkan oleh beragam faktor. Mulai dari balita berpindah tempat tinggal, ataupun pihak keluarga merasa takut adanya pandemi sehingga enggan membawa anaknya ke posyandu terdekat. ”Ada penurunan sekitar 3 ribuan . Tapi posyandu tetap berjalan,” terangnya.

Dikatakan, posyandu balita sudah dibuka sejak Juni. Dengan protokol yang ketat. Kendati antusias saat itu masih minim, perlahan terus mengalami peningkatan. Meski jumlahnya tak sama saat pantauan awal. Dia selalu mengimbau agar keluarga, ibu khususnya, rajin memeriksakan kesehatan anaknya. Terkait panjang badan dan berat badan. Juga termasuk perihal gizi seimbang. ”Jangan sampai balita kekurangan gizi di tengah pandemi ini,” katanya.

Nah, untuk mengatasi hal tersebut, pihaknya memberikan pendampingan bagi orangtua yang takut memeriksakan anaknya ke posyandu. Pendampingan itu melalui kader dusun. Dianjurkan, ibu aktif berkomunikasi dengan pendamping melalui WhatsApp. Pelayanan juga dilakukan jemput bola.

Lain halnya posyandu lansia. Dijelaskan, posyandu lansia hingga kini belum diaktifkan. Belum ada instruksi dari pusat kapan akan digalakan kembali. Hal itu berdasarkan pertimbangan mengingat kasus Covid-19 didominasi oleh kelompok rentan lansia. ”Lansia cenderung pemeriksaan mandiri dari keluarga,” katanya.

Berdasarkan pantauan Dinkes total ibu hamil 2020 hingga Oktober sekitar 12.094 orang. Sedangkan lansia sekitar 155.489 orang.

Ketua Posyandu Dusun Ketingan, Tirtoadi, Mlati, Sleman Rokhimi menyebut, jumlah bayi dan balita di wilayahnya selama pandemi ini meningkat. Sebab, banyak kelahiran baru dan penduduk baru di perumahan yang belum terdata. Berdasarkan data sementara, jumlah balita di wilayah ini ada 70. “Posyandu berjalan lancar, jemput bola ada beberapa,” katanya.

Dalam mengantisipasi persebaran Covid-19, layanan Posyandu lebih diperketat. Balita usia diatas dua tahun diharuskan menimbang dengan timbangan injak. Bukan gantung. Jadi setelah ditimbang, timbangan dan alas kaki langsung disemprot.

Bagi anak yang takut ditimbang, caranya sang ibu dua kali menimbang. Pertama menimbang berat badan sendiri. Kedua, menimbang dengan menggendong anaknya. ”Dengan begitu, bobot anak tinggal hasil timbangan kedua dikurangi hasil timbangan pertama,” jelasnya. (mel/bah)

Kesehatan