RADAR JOGJA – Pakar Farmakologi dan Farmasi Klinis UGM Zullies Ikawati menegaskan Remdesivir bukanlah obat sebenarnya bagi Corona Virus Disease 2019 (Covid-19). Artinya hadirnya obat ini bersifat darurat. Ini karena pihak medis masih melakukan pengembangan atas obat Covid-19.

Remdesivir, lanjutnya, adalah obat untuk virus Ebola. Hanya saja fungsi dari obat ini bisa meredakan Covid-19. Hingga akhirnya BPOM memberikan persetujuan ijin edar sebagai salah satu tindakan medis bagi pasien Covid-19.

“Obat ini diberikan ijin edar dalam bentuk Emergency Use Authorization (EUA). Artinya penggunaan obat diberikan secara darurat karena belum ada obat Covid-19 yang definitif dan disetujui. Bukan keadaan darurat karena pasien dalam kondisi darurat ya,” jelasnya, Senin (5/10).

Walau telah diperjualbelikan, bukan berarti remdesivir bisa didapat secara bebas. Obat langsung terdistribusi ke rumah sakit dan tidak tersedia di apotik. WHO juga telah melakukan uji coba dalam beberapa bulan terakhir.
Ika menuturkan munculnya alternatif pasca hasil penggunaan obat di beberapa negara. Para pasien Covid-19 menunjukkan hasil yang signifikan. Adanya efektivitas yang berupa waktu kesembuhan yang lebih singkat.

“Remdesivir itu sebenarnya bukan obat baru. Sudah digunakan sebagai obat antivirus, dikembangkan untuk mengatasi virus-virus RNA. Pernah dicobakan saat ada wabah Ebola dan MERS,” katanya.

Guru Besar Fakultas Farmasi UGM ini menjelaskan kandungan remdesivir merupakan senyawa analog yang mirip dengan adenosine. Senyawa ini bisa menyusup ke dalam rantai RNA. Sehingga sistem kerjanya menghambat replikasi virus dalam tubuh.

Remdesivir juga bersifat prodrug. Artinya obat akan mengalami perubahan menjadi zat aktif ketika sudah berada dalam tubuh pasien. Alhasil obat lebih optimal masuk ke dalam sel dan melindungi obat sampai di tempat kerjanya.

“Begitu remdesivir dimasukkan ke dalam rantai pertumbuhan RNA, keberadaan gugus karbon dan nitrogen akan menyebabkan bentuk gula mengerut. Pada akhirnya ini menghentikan produksi untai RNA dan menyabotase replikasi virus,” ujarnya.

Terkait penggunaan, Ika memastikan untuk penggunaan pada pasien terkonfirmasi positif Covid-19. Khususnya bagi pasien dengan usia diatas 12 tahun dan berat badan minimal 40 kilogram. Pemberian obat dilakukan melalui injeksi dengan infus.

Pemberian obat juga wajib mengikuti dosis. Hari pertama sebanyak 200 miligram, lalu di hari kedua dan berikutnya diberikan sebanyak 100 miligram/hari. Adapun pemberian obat dilakukan 5 hingga 10 hari.
Remdesivir juga memiliki sejumlah efek samping. Beberapa diantaranya yaitu mual dan muntah. Selain itu remdesivir bisa meningkatkan enzim transaminase. Imbasnya adalah potensi kerusakan liver apabila takaran dosis tak sesuai.

“Keamanan penggunaan remdesivir bagi perempuan hamil dan menyusui juga belum diketahui. Namun, pada uji pre klinik pada tikus dan kera diketahui penggunaan remdesivir bisa mempengaruhi ginjal pada janin,” katanya. (dwi/tif)

Kesehatan