RADAR JOGJA – Belakangan ini beredar pesan berantai yang meresahkan warga yang menyebutkan efek negatif dari penggunaan masker selama pandemi Corona Virus Disease 2019 (Covid-19). Mulai dari keracunan gas buang pernafasan karbondioksida (CO2) dan kekurangan oksigen (O2) atau hipoksia.

Dokter Spesialis Telinga Hidung Tenggorokan, Bedah Kepala Leher RSA UGM Mahatma Sotya Bawono membantah pesan berantai tersebut. Menurutnya pesan tersebut adalah hipotesa tanpa pembuktian. Imbasnya menyesatkan para penerima pesan terutama warga.

“Belum ada bukti yang mendukung kalau pemakaian masker berefek negatif seperti mengakibatkan keracunan karbondioksida dan kekurangan oksigen. Warga jangan percaya begitu saja, terlebih belum ada penelitian tentang itu,” jelasnya, Kamis (3/9).

Boni, sapaanya, memastikan penggunaan masker tetap aman bagi kesehatan. Terbukti dengan penggunaan masker oleh para tenaga kesehatan. Hingga saat ini belum ditemukan kasus yang menimpa dokter maupun tenaga medis lainnya yang disebabkan penggunaan masker.

Dalam pesan berantai tersebut turut menyertakan beragam gejala. Mulai dari linglung atau pingsan yang dialami pengguna masker. Penyebabnya adalah sirkulasi udara yang kurang lancar karena terhalang masker.

“Kalau sampai ada nakes yang pingsan itu bukan murni karena maksernya. Perlu dilihat juga adanya faktor lain pada individu tersebut, bisa jadi kondisinya lapar dan dehidrasi sehingga tanpa pakai masker pun sudah ada risiko pingsan,” katanya.

Dia mencontohkan penggunaan masker N95. Perangkat medis ini digunakan selama berjam-jam lamanya. Terutama saat merawat pasien Covid-19. Hasilnya tak ada temuan kasus akibat penggunaan masker khusus ini. Artinya oksigen masih bisa bersikulasi walau untuk filter ukuran nanometer. 

“Sirkulasi oksigen jenis ini tetap baik, tentu masker milik warga jauh lebih baik.  Apabila tak ada sirkulasi, tiga menit pakai pasti pingsan,” ujarnya.

Penggunaan masker, lanjutnya, justru efektif dalam mencegah penularan Covid-19. Terutama bagi warga yang rutin menjalankan aktivitas luar ruang. Tentunya tetap dengan menerapkan physical distancing dan mencuci tangan dengan sabun maupun hand sanitizer.

Boni juga menyarankan warga rutin mengganti masker. Tujuannya untuk menjaga higienitas dari penggunaan masker. Tentunya juga agar tetap terjaga dari penularan Covid-19.

“Protokol Covid-19 tentang pemakaian masker tentu telah dikaji secara matang. Jadi memang menjadi kebutuhan pokok dalam menjalani adaptasi kehidupan baru,” katanya. 

Pernyataan ini dikuatkan oleh dokter spesialis paru RSA UGM Siswanto. Bahkan dia memastikan penggunaan masker selama berolahraga tetap aman. Perangkat medis ini tak menganggu fungsi paru-paru.

Pernyataan Siswanto bukan tanpa dasar. 

Sebab, dari sisi fisiologis kapasitas paru-paru manusia jauh lebih tinggi. Hingga 200 kali dari kapasitas jantung dan pembuluh darah.

“Bahkan ada jenis masker khusus yaitu elevated training mask yang biasa digunakan untuk melatih kebugaran,” ujarnya.

Dia meluruskan anggapan yang beredar di masyarakat. Terkait banyaknya kasus pesepeda meninggal saat menggunakan masker. Siswanto memastikan penyebab kematian bukanlah masker. 

“Itu lebih disebabkan gangguan pada jantung atau pembuluh darah, bukan permasalahan fungsi paru-paru. Penggunaan masker tidak ada dampak negatif pada fungsi paru maupun parameter metabolik,” katanya. (dwi/tif)

Kesehatan