RADAR JOGJA – Tak hanya psikomasitis, pandemi Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) juga berdampak pada konsumsi informasi. Sayangnya tidak semua masyarakat bisa memilah informasi. Hingga akhirnya konsumsi informasi menjadi berlebihan. Termasuk percaya akan informasi bahkan berita palsu.

Fenomena ini sendiri dikenal dengan istilah doomscrolling atau doomsurfing. Perilaku ini mulai terlihat sejak awal pandemi Covid-19. Berawal dari rasa penasaran hingga mengonsumsi informasi secara asal.

“Doomscrooling ini menggambarkan kecenderungan menelusuri media sosial secara terus menerus, terutama mengakses berita negatif. Fenomena doomscrolling ini semakin banyak dijumpai saat pandemi Covid-19,” jelas Psikiater dari UGM, Ronny Tri Wirasto, dihubungi melalui sambungan telepon, Jumat (4/9).

Salah satu faktor penyebab Doomscrooling, kata Ronny, justru berasal dari isolasi dan karantina diri. Minimnya kegiatan membuat masyarakat mencari informasi secara masif. Terutama dengan membuka sosial media.

Sayangnya informasi yang didapat tak sepenuhnya tepat. Terlebih sumber yang dipilih adalah sosial media. Artinya informasi belum memiliki nilai kevalidan tinggi. Bahkan tak termasuk sebagai produk berita.

“Proses isolasi tersebut mendorong orang untuk memenuhi kebutuhannya mendapat informasi salah satunya melalui medsos. Ini karena mereka tak mau ketinggalan informasi. Lalu muncul perilaku scrolling atau surfing,” katanya.

Munculnya perilaku ini dibarengi dengan rasa cemas. Inilah yang mengakibatkan konsumsi informasi menjadi asal. Termasuk mengonsumsi dan mempercayai informasi buruk atau negatif.

“Ini hanya untuk mengubah perasaan mereka. Menutup kecemasan dengan sesuatu yang lebih kuat. Sesuatu yang buruk atau negatif akan menutup rasa ketidaknyamaan itu,” ujarnya.

Tak hanya psikis, Doomscrooling berdampak pula pada kesehatan fisik. Beberapa gejala yang timbul diantaranya kesulitan hingga mengganggu pola tidur. Efek jangka panjang tentu menyebabkan kesehatan fisik terganggu.

Selain itu doomscrolling juga menyebabkan kelelahan secara mental. Seseorang akan merasakan lelah yang berlebihan. Imbasnya menjadi mudah marah, sensitif, dan irritable. Jika kondisi ini terus berlanjut dikhawatirkan akan memunculkan gangguan mental.

“Perlu diwaspadai jika muncul ciri-ciri ada ganguan tidur, rasa lelah berlebihan, dan mudah merasa nyeri di seluruh tubuh. Apabila hal tersebut sudah terasa menganggu sebaiknya segera minta pendampingan pada profesional seperti psikolog atau psikiater,” pesannya.

Untuk mengatasi efek samping doomscrolling, Ronny menekankan perlu adanya kontrol diri. Berupa pembatasan dalam mengakses media sosial. Selain itu juga membatasi waktu saat mencari dan membaca berita. Agar perilaku Doomscrooling tak semakin berlarut.

“Ingatkan diri sendiri mengenai alasan mengapa melakukan penelusuran di media sosial. Jangan sampai justru terjebak membaca informasi yang tidak relevan dengan kebutuhan,” katanya. (dwi/tif)

Kesehatan