RADAR JOGJA – Apa reaksi teman-teman ketika mendengar kata “rehabilitasi”? Mungkin ada beberapa yang sudah merasa familier dengan kata itu atau ada juga beberapa yang masih merasa asing apa sih arti dari rehabilitasi itu.

Dalam konteks ini, rehabilitasi yang akan dibahas adalah rehabilitasi terkait penyalahgunaan narkotika/ napza. Sebagian pengguna narkotika pasti merasa tidak membutuhkan rehabilitasi karena mereka merasa tubuhnya baik-baik saja. Padahal sebenarnya mereka sedang membutuhkan pertolongan.

Pertolongan yang dimaksud ini berupa therapy/ layanan rehabilitasi yang bertujuan untuk memulihkan pengguna narkotika, supaya tidak menjadi semakin parah atau ketergantungandan dapat kembali berfungsi sosial di lingkungan masyarakat.

Banyak yang beranggapan bahwa apabila pengguna narkotika sudah direhabilitasi berarti sudah sembuh, padahal tidak dapat dikatakan seperti itu. Dalam hal rehabilitasi pengguna narkotika, istilah yang digunakan adalah “pulih”.

Pengguna yang sudah memakai narkotika tidak dapat kembali seperti semula karena sistem saraf pusatnya sudah terganggu akibat dari penggunaan narkotika tersebut. Adanya indikator “pulih” tersebut juga akan sulit tercapai tanpa ada niat/ keinginan/ tekad yang bulat dari klien sendiri.

Dalam layanan rehabilitasi, petugas pelaksana rehabilitasi (atau yang biasa disebut konselor, assesor, atau pendamping) hanya bertugas memfasilitasi, membantu dan mendampingi klien dalam perkembangan/perubahan perilakunya terhadap penggunaan narkotika.

Jadi dapat dikatakan pulih atau tidaknya seorang pengguna adalah tanggungjawab si pengguna itu sendiri.Pada saat berjalannya layanan rehabilitasi ada proses tahapan perubahan perilaku yang dialami klien yaitu mulai dari pra-kontemplasi, kontemplasi, preparasi, aksi, maintenace/ pemeliharaan, hingga bisa kembali relaps lagi. Di antaranya, Pra-kontemplasi, yakni pengguna cenderung masih denial atau menyangkal terkait penggunaan narkotika/zat lainnya.Kontemplasi, pengguna mulai memikirkan keuntungan dan kerugian akibat dari penggunaan narkotika/ zat lainnya. Pada tahap ini pengguna diajak untuk membangun kesenjangan dalam dirinya terkait positif negatif atau pro dan kontra apabila tetap menggunakan anrkotika/ zat lainnya. Preparasi, pengguna sudah ada keinginan untuk merubah kebiasaannya (menggunakan narkotika), biasanya dibantu dengan instrumen penggaris kesiapan oleh konselor.

Aksi, pengguna mulai melaksanakan rutinitas barunya, biasanya diawali dengan bantuan jadwal harian. Maintenance atau pemeliharaan, pengguna mempertahankan untuk tidak menggunakan narkoba lagi, mempertahankan dengan rutinitas/ hal-hal baru/kegiatan yang positif lainnya. Terakhis, relaps di mana pengguna kambuh, pengguna kembali menggunakan narkotika lagi, biasanya dipengaruhi oleh triggers (faktor-faktor pemicu) sehingga klien otomatis akan kembali ke fase awal lagi setelah keadaan ini.

Proses tahapan pemulihan diatas menunjukkan bahwa rehabilitasi memang benar-benar harus dilakukan dengan keinginan yang kuat oleh klien dan harus didukung oleh orang-orang terdekatnya. Cara yang dilakukan oleh konselor salah satunya juga dengan konseling keluarga atau konseling kelompok.

Selain itu setelah tahap pelaksanaan itu selesai, masih harus dilakukan upaya pendampingan dan pemantauan secara menyeluruh dalam program pascarehabilitasi supaya klien tetap abstinen(tidak kambuh). Hal ini yang disebut dengan rehabilitasi berkelanjutan.

Jadi tidak cukup mudah bukan proses rehabilitasi tersebut? Tetapi juga tidak dapat dikatakan cukup sulit juga apabila klien dapat kooperatif dan diajak bekerjasama dalam proses pemulihannya.Belum lagi jika ada stigma dari masyarakat bila mereka menemui pengguna narkotika.

Pengguna narkotika membutuhkan bantuan kita, untuk itu ayo mari kita dukung apabila ada pengguna narkotika yang sudah sadar dan benar-benar ingin pulih. Selain itu tetap betengi diri dan selalu waspada terhadap penyalahgunaan narkotika di lingkungan sekitar kita, jangan sampai kita ikut terjerumus. Tetap sehat dan produktif. (*/ila)

Kesehatan