RADAR JOGJA – Tiga mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) membuat terobosan baru, menyulap tongkol jagung dan daun jati kering menjadi briket untuk bahan bakar alternatif. Mereka adalah Fina Indriyani, Afifah Fadilah Hasna, dan Ridzky Ardiyansah Jati.

SEVTIA EKA NOVARITA, Sleman, Radar Jogja 

Inovasi itu bermula dari kekhawatiran mengenai meningkatnya permintaan bahan bakar dari bahan foSsil. Untuk mengatasi hal itu, diperlukan bahan bakar alternatif, salah satunya briket yang memanfaatkan limbah pertanian.

Adanya limbah pertanian yang cukup melimpah namun belum dimanfaarkan secara maksimal, Fina menuturkan tongkol jagung cukup potensial. Diubah menjadi menjadi bahan bakar padat yang dapat digunakan sebagai sumber energi alternatif. Pengganti minyak bumi dan energi lain yang berasal dari fosil.

“Hal lain yang mendasari dibuatnya tongkol jagung dan daun jati kering menjadi briket, dapat mengurangi limbahnya yang selama ini hanya terbuang,” urai Fina.

Selama ini daun jati kering belum banyak dimanfaatkan oleh masyarakat. Jika ada yang memanfaatkan, hanya digunakan untuk alas hewan seperti pada ternak sapi. Oleh karena itu, daun jati menjadi salah satu bahan utama briket.

Selain daun jati kering dan tongkol jagung, bahan lain yang dibutuhkan adalah minyak tanah, tepung kanji, dan air. “Daun jati kering dan perekat kanji sendiri merupakan sumber energi alternatif yang ramah lingkungan,” ungkap Afifah.

Menurut Ridzky, bahan-bahan itu diolah melalui proses. Yakni karbonisasi daun jati dan tongkol jagung, serta pembuatan briket. Langkah pertama dengan cara membersihkan tongkol jagung dan daun jati. Kemudian menjemurnya di bawah sinar matahari hingga kering.

Tongkol jagung dan daun jati lalu dimasukkan ke dalam drum secara terpisah dan dibakar. Ketika api membesar, maka tongkol lainnya ditambahkan ke dalam drum, hingga yang terlihat hanyalah asap. Ketika tongkol jagung sudah terbakar seluruhnya, drum langsung ditutup. “Tunggu sekitar 15 menit sampai panas yang ada dalam drum hilang,”  lanjut Ridzky.

Arang kemudian dikeluarkan dan dipisahkan. Antara yang terbakar, tidak terbakar, hingga yang telah menjadi abu. Namun yang diambil hanyalah yang menjadi arang. Untuk selanjutnya digiling hingga halus dan siap dicetak menjadi briket.

Untuk tahapan pembuatan briket diawali dengan memasukkan bubuk arang ke dalam sebuah tempat. Untuk nantinya dicampur dengan menambahkan kanji. Dengan takaran arang sebanyak 90 persen dan air panas secukupnya.

Ketika bubuk arang sudah tercampur dengan baik, maka adonan dikeluarkan dan selanjutnya dilakukan pencetakan briket. Briket dicetak dengan menggunakan cetakan yang dibuat dari pipa tabung. “Ditimbang untuk mendapatkan berat awal briket. Kemudian melakukan proses pengeringan dua hingga tiga hari sampai benar-benar kering,” jelasnya. (laz)

Kampus