"Menurut saya jathilan sudah sangat berkembang pada generasi milenial. Sudah banyak seniman besar yang mengembangkan seni kerakyatan, kalau dulu kan masih banyak yang malu," jelas Pimpinan Sanggar Seni Kidung Cakrawala Yulius Sri Wahyudi Jumat (9/6).
Yulius dan warga kampungnya di Padukuhan Sejati Trukan, Sumberarum, Moyudan pernah mendirikan grup Jathilan Laras Kusumo. Namun keberadaannya sudah tak aktif dulu. Basisnya warga kampung, ketika pentas hanya saat dipanggil mengisi event.
"Sekarang mau mendirikan sanggar sendiri namanya Kidung Cakrawala. Saat ini baru mendaftarkan ke Dinas Kebudayaan Sleman," kata pria 41 tahun ini.
Kidung Cakrawala dikemas dengan kesenian kreasi baru. Yakni, memadukan Jaranan dari Wonosobo, Temanggung dan Trenggalek dengan Jathilan Gagrag Ngayogyakarto, yang kemudian dikemas seperti sendratari.
"Tidak ada ndadi atau orang Jawa Tengah nyebutnya mendeme (bukan mabuk minuman keras). Tidak ada ndadine (kesurupan, Red), tetapi murni dikemas tariannya saja," beber Yulius.
Konsep tema, iringan musik dan kostumnya dikemas dengan nuansa beda. Tetap dilengkapi aksesoris njathi. Namun kostumnya dikemas berdasarkan cerita yang diangkat. Kadang kala dikemas dan dipadukan dengan incling atau tarian rakyat tradisional yang mengambil tema cerita dari narasi panji.
"Pemainnya pakai anggukan, pake topi incling bolong. Jaranya pakai belo, lehernya panjang," ujar pria yang akrab disapa Yulius Kentus ini.
Dia menceritakan salah satu karya barunya yang diberi judul Ronggo Wiseso. Berupa perjalanan kehidupan manusia yang tamak dan bengis. Bahkan bertindak semena-mena terhadap kaum bawah. Karya tersebut, lanjutnya, mengandung pepeling pada manusia agar senantiasa bersyukur dan menghargai sesama. "Jathilan kreasi baru ini diperankan 16 orang. Bisa lebih menyesuaikan cerita," katanya.
Disebutkan jathilan kreasi baru umumnya dimainkan setiap babak delapan penari. Dengan durasi bisa sampai satu jam. Sedangkan klasik dilakukan enam orang dalam satu babak.
"Kalau kemasan musik saya tidak begitu gila dengan menggabungkan berbagai genre musik. Tetap mengutamakan musik tradisional dengan hanya memainkan birama saja, misalnya birama ⅞, ⅝, dan ⅚," urainya. Lain halnya jathilan kreasi baru disertai ndadi, bisa dipadupadankan dengan semua genre musik itu,” rincinya.
Untuk keterlibatan grup, Yulius menyebut, generasi muda mulai usia 11-30 tahun. Ada juga yang generasi old, usia 40-an tahun. Untuk pelatihan pembelajaran, juga dibuka anak-anak usia lebih dini dna kecenderungan diikuti oleh anak-anak sekitar.
Dia berharap, semakin banyak regenerasi mencintai jathilan sebagai kesenian adi luhung ini. Menurutnya kesenian tradisional sekaligus kesenian kerakyatan ini bukan hanya tontonan, tetapi juga tuntunan.
Mengajak anak-anak untuk melatih kepekaan, mengolah rasa untuk kegiatan positif. Selain itu juga nguri-uri budaya.
"Saya punya syarat, sopo sik arep melu njathil, tidak boleh minum atau mabuk. Itu yang saya perjuanangkan sampai saat ini. Sebab, mabuk minuman keras bisa membuat kecanduan," tegasnya.
Dia mengajak anak muda selalu berkarya, namun tidak melupakan gagrag kesenian Ngayogyakarta. Sebab menurutnya, seni tradisi yang dikemas baik di masyarakat juga akan menjadi bagus dan bisa diterima masyarakat luas. "Ojo waton sek penting gayeng," tandas pria yang sudah 28 tahun menggeluti kesenian jathilan ini. (mel/eno/sat) Editor : Editor Content