"Ketika teknologi komunikai belum mumpuni dalam menghubungkan antarindividu dan massa, maka media komunikasi tradisional sudah lebih dahulu hadir memberi solusi," ujar dosen Fakultas Ilmu Komunikasi dan Multimedia (Fikomm) Universitas Mercu Buana Jogja Nastain Muhamad (2/6).
ia menyebut secara fungsi kentongan diklasifikasikan menjadi beberapa kategori berdasarkan fungsi. Yakni fungsi sebagai komunikasi, fungsi interaksi sosial dan fungsi komunikasi politik.
"Fungsi komunikasi di mana kentongan menjadi medium informasi dari individu kepada massa dengan kesepakatan aturan yang berlaku," ujarnya.
Menurutnya, ada konsesi dan kesepakatan atas signal yang dikirim. Dengan begitu tidak akan terjadi kesalahan persepsi pada setiap orang. Bunyi dan ritme kentongan menjadi penanda perbedaan informasi.
Dia menyebut intonasi 1-1 menandakan ada yang meninggal. Intonasi 2-2 ada pencurian dan intonasi 3-3 ada kebakaran. Sedangkan intonasi 4-4 menandakan ada banjir dan intonasi 5-5 ialah informasi bencana alam.
Pada fungsi intersksi sosial, kentongan menandakan adanya interaksi sosial antarindividu dalam komunitas masyarakat. Kentongan tidak hanya sebagai benda mati. Namun keberadaanya mewakili sebuah sistem sosial. Dibangun atas landasan kepercayaan dan pemberian otoritas penuh kepada orang yang diberi kepercayaan.
"Kentongan tidak boleh dibunyikan tanpa ada kepentingan atau sekadar iseng semata. Karena itu akan mengganggu sistem sosial yang sudah disepakati," jelasnya.
Kemudian kentongan memiliki fungsi komunikasi politik. Nastain menyebut keberadaan kentongan biasanya dilekatkan pada institusi pemegang kekuasaan. "Pada zaman dahulu kentongan berada di rumah pejabat desa sebagai alat untuk mengumpulkan massa," ujarnya.
Pejabat desa hanya perlu memukul kentongan dengan ritme dan intonasi yang telah disepakati. Fungsinya untuk memberikan informasi kepada warganya atau sekedar mengumpulkan massa.
Kentongan juga selalu menjadi kelengkapan wajib yang harus ada di pos kamling (pos keamanan lingkungan). Ditilik dari namanya saja sudah dapat dimengerti bahwa pos kamling adalah kepanjangan tanggung jawab kekuasaan untuk menghadirkan rasa aman untuk warga.
"Di atas semua itu kentongan menjadi sebuah komunikasi yang mewakili tradisi sosiokultural dalam tradisi yang diperkenalkan oleh pemikir komunikasi Little John," ujarnya.
Sosiokultural menekankan pada individu yang saling terhubung dalam ruang interaksi sosial. Baik interaksi secara verbal ataupun non verbal. Dengan intensitas interaksi sosial ini maka diproduksi lah sebuah budaya. Di dalamnya ada kesepakatan terkait dengan makna, norma aturan dan peringatan yang telah menjadi kesepakatan antarindividu. (lan/laz/sat) Editor : Editor Content