Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Kunci Suara Ada pada Kualitas Bambu

Editor Content • Minggu, 4 Juni 2023 | 16:52 WIB
SISA PESANAN: Perajin Bambu di Bedingin RT 06, RW 35, Sumberadi, Mlati, Sleman, Nurhadiyanto, 48, sedang menunjukkan alat pemukul kentongannya (2/6).(MEITIKA CANDRA LANTIVA/RADAR JOGJA )
SISA PESANAN: Perajin Bambu di Bedingin RT 06, RW 35, Sumberadi, Mlati, Sleman, Nurhadiyanto, 48, sedang menunjukkan alat pemukul kentongannya (2/6).(MEITIKA CANDRA LANTIVA/RADAR JOGJA )
RADAR JOGJA - Kentongan menjadi sibyak komunikasi jarak jauh. Dulu alat yang dibunyikan dengan cara dipukul ini menjadi alarm, kondisi dan situasi di tengah masyarakat. Kentogan juga identik dengan penanda. Jumlah pukulan yang dimainkan dengan ketukan tertentu, maknanya berbeda.

Namun kondisi saat ini mulai berubah. Kentongan bukan menjadi sinyal komunikasi yang urgent lagi di masyarakat. Seiring perkembangan zaman, alat kontrol komunikas di lingkungan masyarakat beralih menggunakan handly talky (HT) dan handphone (HP) lebih masif. Hal ini tentunya mempengaruhi minat orang membeli kentongan.

Perajin Bambu di Bedingin RT 06/RW 35, Sumberadi, Mlati, Sleman, Nurhadiyanto, 48 menceritakan, dulu di era tahun 80 hingga 90-an peminat orang membeli kentongan tinggi. Kentongan menjadi alat urgent, sehingga hampir setiap rumah punya kentongan. Juga di setiap pos ronda.

"Sekarang zaman sudah banyak berubah," ungkap Nurhadiyanto. Perubahan ini dia cermati semenjak 15 tahun belakangan. Saat dirinya mulai menjajal sebagai perajin bambu. Order kentongan perlahan susut. Sehingga Nur hanya akan membuat kentongan jika ada pesanan.

"Jadi sudah tidak stok lagi," bebernya. Hingga kini ia lebih fokus mengerjakan kursi bambu. Kadangkala jual sendiri atau titip jual di Desa Wisata Sendari.

Permintaan kentongan tidak semasif dulu. Sekarang pesanan musiman, misalnya hanya saat ada karnaval, perlombaan menghias kentongan, pada malam 17 Agustusan dan lainnya.

Kentongan ada beragam. Namun Nur lebih fokus pada pembuatan kentongan bambu. Kentongan dibuat dalam satu ruas. Menurutnya, jauh lebih simpel dan proses cenderung cepat dibansingkan kentongan yang terbuat dari balok kayu.

Setelah bambu dibersihkan, dicuci bersih, dan dijemur selanjutnya sisinya dilubangi memanjang yang telah diberi pembatas pecokan yang menyilang. Nah, panjang lubang menyesuaikan keliling lingkaran bambu. Konon aturan ini dia dapat turun temurun. Dari gurunya hingga rumus nenek moyangnya.

Agar lubangan dan bambu seimbang, maka diukur dengan tali melingkari sisinya. Setelah ujung tali saling bertemu, lalu potong. Tali yang sudah terpotong itu sebagai patokan, menentukan panjang lubang. Selain itu lubang kentongan harus presisi antara jarak ruas atas dan ruas bawah. "Agar lebih rapi dan bunyinya bagus," katanya.

Nah, kunci kesuksesan suara itu juga ada pada jenis dan kualitas bambu. Bambu petung merupakan jenis bambu kualitas tinggi. Selain diameternya paling besar dari jenis bambu lainnya, dagingnya juga tebal. Sehingga bila digunakan hasilnya jauh lebih keras dibandingkan bambu diameter kecil, yakni bambu apus. "Harganya pun, petung jauh lebih mahal," bebernya.

Pembuatan alat pemukulnya pun tak boleh dari bambu sembarangan. Namun umumnya alat pemukul dibuat dari bambu paling pangkal, karena lebih keras. Disebutkan, bambu kualitas terbaik ketika ditanam di tanah pegunungan yang kadar airnya rendah.

"Saya awal-awal pernah gagal. Karena kayu yang digunakan tidak bagus bagian dalam jaket pecah, sehingga suara agak nyempreng dan kurang memantul," ceritanya.

Kentongan jangan dililupakan. Dia berharap, pemerintah ikut melestarikan budaya agar tidak punah. Nah, pemerintah menjembatani, kentongan dikenalkan kepada anak muda. Serta tak kalah penting tidak sekadar mengemas peringatan atau seremonial namun juga didorong edukasi komunikasi melalui kentongan.

Kentongan dibanderol secara borongan minimal 30 buah dengan harga per item Rp 10 ribu-Rp 15 ribu per satuannya. "Kalau jika pesan yang jenisnya bambu petung, maka bisa order 10 saja. Harga kentongan dari petung berkisar Rp 20 ribu-Rp 30 ribu per buah," ungkapnya. (mel/laz/sat) Editor : Editor Content
#kentongan